Pendahuluan
Banyak pihak mengkaitkan sejumlah kebijakan serta praktik pemerintahan Jokowi dengan ciri-ciri Orde Baru — konsentrasi kekuasaan, relasi erat dengan militer atau alat keamanan, penurunan ruang kritis, dan strategi politik patronase. Namun demikian, saat ini mahasiswa jarang berhasil menumbangkan rezim; ada berbagai alasan struktural, historis, dan kontekstual yang menjelaskan kondisi ini.
Faktor-faktor penghambat
Kekuatan negara dan alat keamanan Negara modern memegang monopoli atas aparat penegak hukum, intelijen serta kebijakan keamanan. Penggunaan instrumen hukum (penyerangan hukum terhadap demonstran melalui UU, pasal bermasalah), dan pemantauan digital menjadikan ruang protes lebih berisiko dan sulit untuk dikoordinasikan dengan aman.
Ko-optasi dan patronase Berbagai organisasi masyarakat sipil, serikat, atau tokoh mahasiswa dapat diintegrasikan melalui uang, jabatan, ataupun peluang karier. Sistem patronase yang kuat mengurangi insentif bagi individu kunci untuk tetap bertahan dalam oposisi yang radikal.
Fragmentasi gerakan dan taktik Gerakan mahasiswa saat ini lebih tersekat secara ideologis maupun geografis. Perbedaan fokus (antara kampus dan isu nasional), strategi (digital versus aksi di jalan), dan orientasi karier menciptakan kesulitan dalam merangkul front yang bersatu yang mampu memberikan tekanan politik yang terus menerus.
Legitimasi populer dan situasi ekonomi Jika pemerintah masih dianggap memberikan stabilitas dalam ekonomi dan infrastruktur oleh mayoritas masyarakat, maka mobilisasi massa dalam skala besar untuk menumbangkan rezim menjadi lebih sulit dilakukan. Isu-isu struktural sering kali dipersepsikan sebagai kompleks dan tidak langsung memicu aksi massa.
Peran media sosial dan “slacktivism” Internet menciptakan ruang untuk mengeksplorasi pendapat, tetapi juga melahirkan aktivisme yang temporer serta jaring amplifikasi yang cepat hilang. Di samping itu, disinformasi dan polarisasi menghambat pembentukan narasi tunggal yang dapat menggerakkan masyarakat untuk turun ke jalan.
Kelemahan aliansi kelas pekerja dan masyarakat luas Gerakan mahasiswa yang sukses di masa lalu sering kali menjalin koalisi dengan para buruh, petani, dan kelas menengah. Saat ini, hubungan tersebut jauh lebih lemah; serikat pekerja memiliki daya tawar yang rendah dan mobilisasi komunitas lebih terbatas.
Apa yang bisa dilakukan?
Membangun koalisi lintas-sektor (buruh, petani, perempuan, lingkungan).
Mengutamakan isu konkret yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat (ekonomi, lingkungan, korupsi) untuk memperkuat legitimasi.
Menggabungkan berbagai taktik: advokasi hukum, kampanye publik, dan aksi non-kekerasan yang teroganisir.
Memperkuat organisasi jangka panjang di luar kampus: pendidikan politik, kaderisasi, serta kemandirian dalam sumber daya.
Menjaga keamanan digital dan strategi komunikasi untuk menghadapi tekanandan disinformasi.
Penutup
Ketidakberhasilan dalam menggulingkan rezim bukan sekadar disebabkan oleh hilangnya semangat mahasiswa, melainkan merupakan hasil dari gabungan kekuatan negara, dinamika sosial-ekonomi, fragmentasi gerakan, serta taktik represif yang modern. Perubahan signifikan memerlukan organisasi yang solid, aliansi yang luas, serta strategi yang berkelanjutan
Baca Juga Peristiwa NKK/BKK
Baca Juga Peristiwa Reformasi
Baca Juga Ilusi Visualisme dalam Pembangunan
