Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menarik perhatian masyarakat. Aktivitas vulkanik yang meningkat sejak awal Juli 2026 kini memasuki fase erupsi menerus, disertai semburan lava, abu vulkanik, suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah di Banten, Lampung dan Jawa Barat.
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Jumat malam, 4 September 2026, dan mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB. Badan Geologi menyebut erupsi tersebut disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang terlihat terus-menerus dari pos pengamatan.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Secara administratif, gunung ini termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Dari Mana Asal Gunung Anak Krakatau?
Nama Krakatau memiliki sejarah panjang dalam catatan kebencanaan Indonesia. Gunung Krakatau yang lama mengalami kehancuran dalam letusan besar tahun 1883 meninggalkan sebuah kaldera. Di dalam kawasan tersebut kemudian tumbuh gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Berdasarkan catatan vulkanologi, Anak Krakatau mulai muncul dari kawasan kaldera pasca-erupsi 1883 dan kemudian mengalami pertumbuhan serta erupsi berulang sejak 1927.
Peristiwa 1883 sendiri merupakan salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern. Keruntuhan tubuh gunung menyebabkan tsunami yang menerjang pesisir Sumatra dan Jawa. Lebih dari 36.000 orang meninggal, dengan sebagian besar korban akibat tsunami.
Apa yang Terjadi pada Erupsi September 2026?
Aktivitas Anak Krakatau sebenarnya telah meningkat sejak pertengahan 2026.
Pada 2 Juli 2026, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Setelah evaluasi aktivitas vulkanik, Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Aktivitas tersebut kemudian berlanjut dalam bentuk erupsi Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Pada malam 5 September, aktivitas meningkat menjadi erupsi menerus. Badan Geologi melaporkan adanya fenomena menyerupai lava fountain atau air mancur lava, yang menghasilkan aliran lava serta suara gemuruh.
Suara dentuman bahkan dilaporkan terdengar oleh masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung dan Jawa Barat.
Apa Penyebab Erupsi?
Secara geologi, erupsi terjadi karena adanya aktivitas magma di dalam tubuh gunung api. Tekanan gas dan magma yang bergerak menuju permukaan dapat menyebabkan peningkatan aktivitas kegempaan, hembusan, keluarnya gas, lava, material pijar dan abu vulkanik.
Dalam kasus Anak Krakatau, peningkatan aktivitas telah terdeteksi sebelum erupsi besar September. Badan Geologi mencatat peningkatan aktivitas vulkanik sejak Juni dan kemudian menaikkan status gunung menjadi Level III pada 2 Juli 2026.
Namun, penting membedakan erupsi saat ini dengan tragedi 1883. Kondisi morfologi Anak Krakatau saat ini berbeda. Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan, berdasarkan evaluasi hingga laporan 5 September, tidak berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami besar.
Daerah Mana Saja yang Terkena Dampak?
Dampak erupsi kali ini tidak hanya dirasakan di sekitar gunung.
Menurut pemantauan BMKG pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik telah membentuk dua klaster yang mencakup wilayah:
- Banten
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Lampung
- Bengkulu
- Selat Sunda
- Sebagian wilayah Samudra Hindia
Arah pergerakan abu berbeda menurut ketinggiannya. Abu pada ketinggian lebih rendah bergerak menuju kawasan timur laut hingga selatan, sementara material pada ketinggian lebih tinggi bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Artinya, dampak erupsi dapat dirasakan jauh dari lokasi gunung, terutama ketika abu vulkanik terbawa angin.
Jakarta Ikut Terdampak
Salah satu perhatian utama adalah masuknya sebaran abu vulkanik ke wilayah DKI Jakarta.
BMKG melaporkan abu vulkanik pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi keselamatan penerbangan karena partikel abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat.
Dampaknya kemudian terasa pada operasional penerbangan. Sejumlah bandara mengalami penutupan sementara pada waktu berbeda, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.
Laporan media pada 6 September juga menyebut gangguan penerbangan meluas hingga ratusan penerbangan, sementara abu terdeteksi pada ketinggian sangat tinggi.
Dampak terhadap Masyarakat
Dampak yang paling nyata bagi masyarakat bukan hanya berupa suara dentuman, tetapi juga potensi paparan abu vulkanik.
Abu vulkanik dapat menyebabkan:
1. Gangguan pernapasan
Partikel halus abu dapat masuk ke saluran pernapasan sehingga masyarakat dianjurkan menggunakan masker, terutama ketika terjadi hujan abu.
2. Iritasi mata
Paparan abu dapat menyebabkan mata terasa perih, berair atau mengalami iritasi.
3. Gangguan aktivitas sekolah
Sejumlah kegiatan sekolah dilaporkan dihentikan atau dibatalkan di wilayah yang terdampak abu demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
4. Gangguan aktivitas nelayan
Sebaran abu dan meningkatnya aktivitas gunung menyebabkan aktivitas nelayan di kawasan terdampak ikut terganggu.
5. Gangguan transportasi udara
Ini menjadi salah satu dampak terbesar karena abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat dan mengurangi keselamatan penerbangan.
6. Gangguan aktivitas masyarakat
Masyarakat di sejumlah daerah harus mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu meningkat.
Apakah Erupsi Kali Ini Menyebabkan Tsunami?
Pertanyaan mengenai tsunami sangat wajar karena sejarah Krakatau tidak dapat dipisahkan dari tsunami.
Namun, hingga 6 September 2026, BMKG tidak mendeteksi adanya anomali muka laut yang menunjukkan tsunami di Selat Sunda akibat rangkaian erupsi terbaru. Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai sensor dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Meski demikian, masyarakat pesisir tetap diminta waspada karena aktivitas gunung api dapat memiliki bahaya sekunder, termasuk kemungkinan longsoran material ke laut. BMKG dan Badan Geologi terus memantau kondisi gunung dan laut di sekitarnya.
Mengapa Masyarakat Tetap Diminta Waspada?
Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas yang panjang dan berada di lingkungan laut. Salah satu contoh paling tragis terjadi pada 22 Desember 2018, ketika sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut setelah aktivitas erupsi dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Bencana 2018 menewaskan lebih dari 400 orang di pesisir Jawa dan Sumatra.
Karena itu, meskipun kondisi saat ini tidak menunjukkan tsunami, perkembangan aktivitas Anak Krakatau tetap dipantau secara ketat.
Radius 3 Kilometer Masih Dilarang Dimasuki
Badan Geologi menetapkan bahwa masyarakat, wisatawan dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan:
- lontaran batu pijar,
- aliran lava,
- awan panas,
- hujan abu lebat,
- dan bahaya vulkanik lainnya.
Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Krakatau: Dari Tragedi 1883 hingga Anak Krakatau 2026
Sejarah Krakatau menunjukkan bagaimana sebuah gunung api dapat mengubah kehidupan masyarakat dan bahkan bentuk geografis kawasan.
Letusan besar 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan menghasilkan tsunami mematikan yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra. Puluhan ribu orang menjadi korban.
Puluhan tahun kemudian, Anak Krakatau muncul dari kawasan kaldera tersebut.
Pada 2018, runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami kembali.
Kini, pada 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat dan menghasilkan erupsi yang dampaknya dapat dirasakan hingga wilayah yang jauh dari pusat gunung, terutama melalui sebaran abu vulkanik.
Perjalanan panjang tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan Selat Sunda merupakan salah satu wilayah yang harus selalu siap menghadapi aktivitas gunung api.
Masyarakat Diminta Tidak Panik
Erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan fenomena alam yang harus dihadapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu sebaiknya menggunakan masker dan pelindung mata ketika berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas di area dengan abu tebal, serta mengikuti informasi resmi.
Yang tidak kalah penting adalah tidak menyebarkan video lama atau informasi yang belum terverifikasi. Badan Geologi sebelumnya juga menemukan beredarnya video yang diklaim sebagai rekaman erupsi Anak Krakatau terbaru, padahal bukan rekaman peristiwa saat ini.
Kesimpulan
Erupsi Anak Krakatau September 2026 menunjukkan bahwa aktivitas gunung api tersebut masih sangat dinamis. Dampak yang paling nyata saat ini adalah sebaran abu vulkanik, gangguan penerbangan, gangguan aktivitas masyarakat, iritasi akibat abu serta meningkatnya kewaspadaan di wilayah pesisir Selat Sunda.
Wilayah yang telah teridentifikasi terdampak sebaran abu mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu, dengan sebaran juga menuju kawasan Selat Sunda dan Samudra Hindia.
Hingga informasi resmi BMKG pada 6 September 2026, belum terdeteksi anomali muka laut yang menunjukkan tsunami akibat rangkaian erupsi terbaru.
Kondisi Anak Krakatau tetap membutuhkan pemantauan karena aktivitas vulkaniknya dapat berubah sewaktu-waktu. Masyarakat sebaiknya menjadikan informasi PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB dan pemerintah daerah sebagai rujukan utama.
