Spread the love
Bagi Bagus, matematika adalah misteri, sejarah hanyalah deretan angka acak, dan fisika tak ubahnya mantra sihir bahasa asing. Namun, Bagus bukan siswa sembarangan. Ia adalah Sang Master Absensi, seorang maestro penekan tombol submit Google Form tepat pada pukul 06.59 WIB, pahlawan pembubuh tanda tangan dengan tinta hitam pekat sebelum bel masuk sekolah berdenting.

Di SMA Negeri 1 Formalitas, belajar adalah opsi, tetapi kehadiran adalah harga mati.

Pak Guritno, guru Sosiologi, pernah memberi wejangan sakral di depan kelas: “Kalian tidak perlu pusing paham apa itu stratifikasi sosial. Yang penting nama kalian ada di lembar presensi. Sebab di negeri ini, raga yang hadir jauh lebih berharga daripada otak yang berpikir.”

Kata-kata itu terpatri abadi di sanubari Bagus. Sejak hari itu, ia merancang strategi peradaban. Ketika teman-temannya pusing menelaah rumus kuadrat sampai kepala serasa mau pecah, Bagus sibuk memastikan baterai ponselnya terisi penuh agar tidak terlambat memindai QR code absen. Saat teman-temannya bergadang belajar untuk Ujian Akhir, Bagus tidur nyenyak sepuluh jam sehari demi menjaga kesehatan fisik agar tidak pernah izin, sakit, apalagi alfa.

Bagi Bagus, buku pelajaran adalah beban yang tidak perlu. Untuk apa ijazah dengan nilai sempurna jika pada akhirnya selembar Sertifikat Presensi Agung 100% Tanpa Celah adalah dokumen paling bertuah yang pernah diterbitkan oleh lembaga pendidikan?

“Kamu tidak takut tidak lulus ujian, Gus?” tanya Dimas, teman sebangkunya yang matanya berkantung hitam akibat menghafal tabel periodik.

Bagus tersenyum tipis, membetulkan kerah seragamnya yang licin tanpa lipatan. “Cita-citaku tinggi, Dim. Aku tidak mengincar posisi staf ahli atau peneliti yang butuh isi otak. Aku mau jadi Wakil Presiden.”

Dimas tersedak air mineral. “Hah? Wapres? Memangnya kamu punya ijazah perguruan tinggi? Ijazah SMA saja nilai matematika kamu melayang di garis kemiskinan!”

Bagus menepuk bahu Dimas dengan penuh simpati, seolah kasihan pada kepolosan rekannya itu. “Di zaman modern ini, ijazah itu terlalu banyak perdebatan. Nanti dicari-cari aslinya di mana, diverifikasi ke kampus mana, bikin gaduh media sosial. Tapi sertifikat absen? Autentik! Ada sidik jari, jejak digital lokasi GPS, dan cap basah wali kelas.”

Ia melanjutkan dengan tatapan penuh visi masa depan: “Rakyat tidak butuh pemimpin yang bisa membuktikan rumus kalkulus. Rakyat butuh bukti bahwa pemimpinnya ‘pernah hadir’. Selama absenku centang hijau dari kelas satu sampai kelas tiga, itu sudah bukti sah bahwa aku siap duduk di kursi kekuasaan.”

Tahun-tahun berlalu. Dimas lulus dengan predikat summa cum laude, tenggelam dalam tumpukan berkas lamaran kerja yang tak kunjung dibalas. Sementara itu, Bagus melenggang santai membawa map batik berisi lembaran Rekapitulasi Kehadiran Absolut.

Ketika baliho raksasa bergambar wajah Bagus terpampang di perempatan jalan kota dengan jargon “Hadir untuk Anda, Karena Saya Selalu Isi Absen”, seluruh mantan gurunya menepuk dada bangga. Sekolah mereka akhirnya berhasil mencetak calon pemimpin bangsa—tanpa perlu repot-repot mengajarinya cara berpikir jernih.
 

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *