Spread the love

Oleh: Erwin Siregar

Dulu, kalau seseorang mengatakan dirinya bekerja, hampir pasti ada tempat yang bisa disebut sebagai kantor.

Senin pagi berangkat. Naik kendaraan atau transportasi umum. Sampai di kantor. Duduk di meja. Bekerja di depan komputer. Istirahat makan siang. Sore atau malam pulang ke rumah.

Pola seperti itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Tetapi kemudian internet berkembang.

Komputer semakin murah dan semakin kuat. Smartphone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Penyimpanan data pindah ke cloud. Video conference menjadi biasa. Aplikasi komunikasi membuat orang dapat bekerja tanpa harus berada di tempat yang sama.

Kemudian muncul istilah yang semakin dikenal:

Remote working.

Orang bisa bekerja dari rumah, coworking space, kafe, atau tempat lain selama tersedia perangkat dan koneksi internet.

Bagi saya, perubahan ini menarik karena sebenarnya yang berubah bukan hanya tempat seseorang bekerja.

Yang berubah adalah cara kita mendefinisikan pekerjaan itu sendiri.


Kerja di Kantor: Semua Orang Berada di Tempat yang Sama

Sistem kerja kantor memiliki satu kelebihan yang sangat sederhana:

orang-orang berada di tempat yang sama.

Ketika ada masalah, seorang pegawai bisa langsung bertanya kepada rekan kerja.

Ada rapat? Tinggal masuk ruang rapat.

Ada dokumen yang harus diperiksa? Bisa langsung diberikan.

Ada pelanggan yang datang? Ada orang yang berada di kantor untuk melayaninya.

Komunikasi secara langsung juga memiliki kelebihan.

Kadang-kadang sebuah masalah yang membutuhkan percakapan panjang melalui chat bisa selesai dalam lima menit ketika dibicarakan secara langsung.

Karena itu, kantor masih sangat relevan untuk pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, interaksi langsung, peralatan tertentu, atau pelayanan kepada masyarakat.

Namun, kerja di kantor juga memiliki konsekuensi.

Seseorang harus datang ke lokasi kerja.

Ada waktu perjalanan.

Ada biaya transportasi.

Ada biaya makan.

Ada kemungkinan terjebak macet.

Dan bagi sebagian orang, perjalanan pulang-pergi setiap hari bisa menghabiskan waktu yang cukup besar.


Remote Working: Kantor Bisa Berpindah ke Rumah

Remote working membalik konsep tersebut.

Kalau pekerjaan dapat dilakukan menggunakan komputer dan internet, maka pertanyaannya menjadi:

Apakah pekerja harus berada di kantor?

Seorang programmer mungkin tidak perlu duduk di kantor perusahaan untuk menulis kode.

Seorang desainer tidak harus berada di gedung perusahaan untuk membuat desain.

Seorang penulis tidak harus duduk di ruang redaksi untuk menulis artikel.

Seorang digital marketer dapat mengelola kampanye dari rumah.

Bahkan sebuah tim yang anggotanya berada di Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, atau kota lain dapat bekerja pada proyek yang sama.

Internet membuat mereka tetap terhubung.

Dalam kondisi seperti ini, kantor fisik bukan lagi satu-satunya tempat pekerjaan berlangsung.


Waktu Perjalanan: Perbedaan yang Sangat Nyata

Mari kita lihat dari sisi yang sederhana.

Misalnya seseorang membutuhkan waktu satu jam perjalanan dari rumah ke kantor.

Pergi dan pulang berarti dua jam setiap hari.

Dalam lima hari kerja, waktunya menjadi sekitar:

10 jam per minggu.

Dalam satu bulan kerja, waktunya bisa mencapai puluhan jam hanya untuk perjalanan.

Pada remote working, sebagian waktu tersebut bisa digunakan untuk hal lain.

Bisa untuk bekerja.

Bisa untuk keluarga.

Bisa untuk istirahat.

Bisa juga untuk belajar meningkatkan kemampuan.

Tetapi ada sisi lain yang sering tidak dibicarakan.

Tidak semua orang bisa langsung bekerja efektif dari rumah.

Ada orang yang justru lebih mudah fokus ketika berada di lingkungan kantor.

Di rumah ada anak.

Ada pekerjaan rumah.

Ada gangguan lingkungan.

Ada godaan untuk beristirahat.

Jadi, menghilangkan perjalanan tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih produktif.


Kantor Memisahkan Rumah dan Pekerjaan

Ini salah satu kelebihan kantor yang sering tidak disadari.

Ketika seseorang pergi ke kantor, ada batas yang jelas.

Rumah adalah rumah.

Kantor adalah tempat kerja.

Ketika jam kerja selesai dan seseorang meninggalkan kantor, secara psikologis ada proses berpindah dari pekerjaan menuju kehidupan pribadi.

Remote working mengaburkan batas tersebut.

Laptop yang digunakan bekerja berada di rumah.

Meja kerja berada di kamar.

Pesan dari kantor bisa masuk ke smartphone.

Rapat online bisa dilakukan dari ruang keluarga.

Akibatnya, pekerjaan bisa terasa seperti selalu berada di dekat kita.

Karena itu, remote working membutuhkan disiplin.

Kalau tidak ada batas yang jelas, seseorang bisa bekerja lebih lama daripada ketika berada di kantor.


Remote Working Memberikan Kebebasan, Tetapi Kebebasan Punya Harga

Ada anggapan bahwa remote working berarti bekerja lebih santai.

Tidak selalu.

Remote working memang memberikan fleksibilitas lokasi, tetapi target pekerjaan tetap ada.

Klien tetap menunggu.

Deadline tetap berjalan.

Rapat tetap berlangsung.

Email tetap masuk.

Bahkan dalam beberapa pekerjaan, seseorang harus lebih disiplin karena tidak ada atasan yang secara fisik berada di dekatnya.

Di kantor, seorang manajer dapat melihat timnya bekerja.

Dalam remote working, hasil pekerjaan menjadi semakin penting.

Bukan lagi sekadar:

“Apakah kamu terlihat bekerja?”

Tetapi:

“Apakah pekerjaanmu selesai?”

Ini merupakan perubahan cara berpikir yang cukup besar.


Kantor: Kehadiran Lebih Mudah Terlihat

Dalam sistem kerja kantor, kehadiran seseorang mudah dilihat.

Datang pagi.

Duduk di meja.

Mengikuti rapat.

Berinteraksi dengan rekan kerja.

Semua terlihat.

Remote working mengubah hal tersebut.

Seorang pekerja bisa terlihat tidak aktif di kantor, tetapi sebenarnya sedang menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Sebaliknya, seseorang bisa terlihat online sepanjang hari tetapi produktivitasnya belum tentu tinggi.

Karena itu, remote working mendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan hasil pekerjaan, bukan hanya keberadaan fisik pekerja.


Interaksi Sosial: Kantor Memiliki Keunggulan Tersendiri

Ada hal yang sulit digantikan teknologi.

Interaksi manusia secara langsung.

Di kantor, banyak informasi muncul secara spontan.

Dua orang bertemu di pantry.

Kemudian membicarakan pekerjaan.

Dari percakapan kecil tersebut muncul sebuah ide.

Atau seorang pegawai baru bisa belajar dari senior hanya dengan mengamati bagaimana senior tersebut bekerja.

Dalam remote working, interaksi biasanya lebih terstruktur.

Ada chat.

Ada email.

Ada video conference.

Ada jadwal meeting.

Hal tersebut memang efisien, tetapi interaksi spontan bisa berkurang.

Karena itu, remote working bukan berarti otomatis lebih baik dalam hal komunikasi.

Keduanya memiliki karakter yang berbeda.


Biaya Perusahaan Juga Berubah

Dari sisi perusahaan, kerja kantor membutuhkan infrastruktur.

Ada gedung.

Ada meja.

Ada kursi.

Ada listrik.

Ada internet.

Ada fasilitas kantor.

Ada biaya pemeliharaan.

Jika sebagian pekerjaan dapat dilakukan secara remote, kebutuhan terhadap fasilitas fisik tertentu bisa berkurang.

Tetapi remote working juga membutuhkan investasi.

Perusahaan harus memastikan sistem komunikasi berjalan.

Data harus aman.

Akses terhadap sistem perusahaan harus terlindungi.

Perangkat pekerja harus mendukung pekerjaan.

Dan perusahaan harus memiliki sistem manajemen pekerjaan yang jelas.

Jadi, remote working bukan berarti perusahaan tidak mengeluarkan biaya.

Biayanya hanya berubah bentuk.


Tidak Semua Pekerjaan Bisa Remote

Ini bagian yang sangat penting.

Tidak semua pekerjaan dapat dipindahkan ke rumah.

Dokter membutuhkan fasilitas kesehatan.

Perawat harus berada di rumah sakit.

Guru pada model pendidikan tertentu membutuhkan interaksi langsung dengan siswa.

Pekerja konstruksi harus berada di lokasi proyek.

Teknisi harus datang ke tempat mesin berada.

Pedagang di toko fisik perlu melayani pelanggan.

Operator mesin harus berada di lokasi produksi.

Karena itu, remote working terutama memberikan peluang besar bagi pekerjaan yang dapat dilakukan secara digital.

Dengan kata lain:

Remote working bukan pengganti seluruh sistem kerja kantor.

Ia merupakan salah satu bentuk kerja yang semakin memungkinkan karena teknologi.


Kantor vs Remote Working

Kalau dibandingkan secara sederhana, perbedaannya bisa dilihat seperti ini:

AspekKerja di KantorRemote Working
LokasiTerikat lokasi kerjaLebih fleksibel
PerjalananBiasanya diperlukanBisa diminimalkan
Interaksi langsungTinggiLebih terbatas
Pemisahan rumah & kerjaLebih jelasBisa bercampur
PengawasanLebih mudah secara langsungLebih bergantung sistem & hasil
FleksibilitasCenderung lebih terbatasCenderung lebih tinggi
Pekerjaan timInteraksi langsung lebih mudahMengandalkan teknologi
Jenis pekerjaanTermasuk pekerjaan fisik/lapanganTerutama pekerjaan digital
Kebutuhan disiplin pribadiPentingSangat penting
InfrastrukturKantor fisikPerangkat & koneksi digital

Tabel tersebut bukan berarti salah satu sistem selalu lebih unggul.

Kesesuaiannya tergantung pada jenis pekerjaan, organisasi, kebutuhan pekerja, dan cara perusahaan mengelolanya.


Dari “Tempat Kerja” Menjadi “Cara Kerja”

Menurut saya, inilah perubahan paling menarik.

Dulu kita sering berpikir:

“Di mana kamu bekerja?”

Sekarang pertanyaan itu perlahan berubah menjadi:

“Bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan?”

Jika sebuah pekerjaan bisa dilakukan menggunakan komputer, software, internet, dan sistem cloud, maka lokasi fisik menjadi semakin fleksibel.

Inilah yang memungkinkan munculnya perusahaan dengan tim yang tidak selalu berada di satu gedung.

Seorang programmer di Jakarta dapat bekerja bersama desainer di Bandung dan klien di Singapura.

Mereka tidak harus berada di satu ruangan.

Yang menyatukan mereka adalah teknologi.


Masa Depan Mungkin Bukan Kantor atau Remote

Menurut saya, perdebatan “kantor vs remote” juga sebenarnya tidak harus berakhir dengan memilih salah satu.

Kemungkinan yang berkembang justru adalah hybrid working.

Beberapa hari bekerja dari kantor.

Beberapa hari bekerja dari rumah.

Pertemuan yang membutuhkan interaksi langsung dilakukan di kantor.

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dapat dilakukan dari rumah.

Model seperti ini mencoba menggabungkan kelebihan kedua sistem.

Namun tentu saja, penerapannya tetap tergantung jenis pekerjaan dan kebijakan masing-masing perusahaan.


Kesimpulan: Kantor Tidak Hilang, Tetapi Maknanya Berubah

Menurut saya, perkembangan remote working tidak berarti kantor akan hilang.

Kantor tetap memiliki fungsi penting.

Manusia masih membutuhkan interaksi langsung.

Tim masih membutuhkan tempat untuk bertemu.

Ada pekerjaan yang memang tidak dapat dilakukan dari rumah.

Tetapi teknologi telah menunjukkan bahwa kehadiran fisik di kantor tidak selalu menjadi syarat untuk menghasilkan pekerjaan.

Inilah perubahan besar yang terjadi dalam dunia kerja.

Dulu:

Pekerjaan → membutuhkan kantor.

Sekarang:

Pekerjaan → membutuhkan kemampuan, perangkat, sistem, dan koneksi.

Kantor adalah salah satu tempat untuk menjalankannya.

Rumah bisa menjadi tempat lainnya.

Dan dalam pekerjaan tertentu, seseorang bahkan bisa bekerja dari mana saja.

Bagi saya, yang paling penting bukan apakah seseorang bekerja di kantor atau secara remote.

Yang lebih penting adalah apakah sistem kerja tersebut mampu membuat pekerjaan selesai dengan baik, komunikasi berjalan, tanggung jawab jelas, dan kehidupan manusia tetap memiliki ruang di luar pekerjaan.

Karena pada akhirnya, teknologi seharusnya bukan hanya membuat kita bisa bekerja dari mana saja.

Teknologi juga seharusnya membuat kita memiliki lebih banyak pilihan tentang bagaimana kita bekerja dan menjalani kehidupan.

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *