Selama puluhan tahun, dunia dijejali satu narasi dominan: komunisme adalah ancaman peradaban. Ia disebut biang keladi kemiskinan, otoritarianisme, dan keruntuhan ekonomi. Dari ruang kelas hingga layar televisi internasional, komunisme diposisikan sebagai hantu sejarah yang pantas dikubur dalam-dalam.
Namun sejarah jarang sesederhana propaganda.
Setelah runtuhnya Uni Soviet, dunia memasuki era yang disebut sebagai “kemenangan kapitalisme liberal.” Francis Fukuyama bahkan menyebutnya sebagai “akhir sejarah” — seolah sistem pasar bebas dan demokrasi liberal adalah takdir final umat manusia.
Tiga dekade berlalu. Apakah dunia menjadi lebih damai?
Venezuela: Demokrasi atau Minyak?
Lihat apa yang terjadi di Venezuela. Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia ini terus-menerus dilabeli sebagai contoh kegagalan sosialisme. Krisis ekonomi, inflasi, migrasi besar-besaran — semua dijadikan bukti final bahwa “komunisme tidak bekerja.”
Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan secara jujur:
mengapa tekanan ekonomi dan sanksi dari Amerika Serikat begitu masif terhadap negara ini?
Sanksi finansial membatasi akses transaksi internasional, menghambat ekspor minyak, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Dalam politik global, sanksi bukan tindakan netral. Ia adalah instrumen kekuasaan. Dan kekuasaan selalu punya kepentingan.
Apakah ini murni soal demokrasi? Atau soal siapa yang mengendalikan energi dunia?
Iran: Stabilitas atau Dominasi Kawasan?
Di Timur Tengah, ketegangan antara Iran dan Israel terus memanas. Iran kerap digambarkan sebagai ancaman regional. Sementara kebijakan keamanan Israel hampir selalu dibingkai sebagai langkah defensif.
Tentu, politik Iran pun tidak tanpa cela. Tetapi membingkai konflik semata sebagai persoalan “rezim radikal” mengabaikan konteks lebih luas: perebutan pengaruh regional, aliansi militer global, serta dinamika ideologi nasionalisme modern.
Di sinilah istilah Zionisme menjadi perdebatan tajam. Bagi pendukungnya, ia adalah fondasi identitas nasional. Bagi pengkritiknya, ia adalah proyek kolonial modern di wilayah yang telah lama dihuni bangsa lain.
Mengkritik Zionisme sebagai ideologi politik bukanlah antisemitisme. Tetapi dunia sering gagal membedakan keduanya — sengaja atau tidak.
Imperialisme: Wajah Baru, Strategi Lama
Imperialisme hari ini tidak selalu datang dengan kapal perang dan bendera kolonial. Ia hadir melalui:
- Sistem keuangan global yang timpang
- Sanksi ekonomi selektif
- Intervensi politik tak langsung
- Dominasi korporasi multinasional
Jika komunisme dikritik karena kontrol negara atas ekonomi, mengapa kontrol pasar global oleh segelintir negara besar tidak dianggap ancaman?
Bukankah dominasi tetaplah dominasi, apa pun ideologinya?
Standar Ganda yang Terlalu Nyata
Dunia Barat dengan mudah menunjuk kegagalan rezim komunis sebagai bukti absolut keburukan sistem. Tetapi ketika intervensi militer menghancurkan negara, ketika embargo melumpuhkan ekonomi, ketika perang proksi menelan ribuan nyawa — istilah yang dipakai berubah menjadi “stabilisasi,” “intervensi kemanusiaan,” atau “penjaga perdamaian.”
Standar ganda ini bukan kebetulan. Ia adalah bagian dari arsitektur narasi global.
Ini Bukan Pembelaan Buta
Editorial ini bukan glorifikasi komunisme. Sejarah mencatat pelanggaran hak asasi dalam berbagai rezim yang mengatasnamakan ideologi tersebut. Tetapi kejujuran intelektual menuntut konsistensi: jika satu ideologi diadili, maka yang lain pun harus diadili dengan standar yang sama.
Faktanya, konflik global modern lebih sering dipicu oleh:
- Perebutan sumber daya
- Persaingan geopolitik
- Dominasi ekonomi
- Politik identitas
Ideologi hanyalah kendaraan. Kekuasaan adalah tujuannya.
