Menuju pertengahan tahun 2026, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai melewati fase transisi menuju fase eksekusi penuh. Dengan visi “Asta Cita”, kebijakan ekonomi diarahkan pada pertumbuhan tinggi yang inklusif.
Berikut adalah analisis realisasi janji kampanye berdasarkan indikator ekonomi utama:
- Pertumbuhan Ekonomi (GDP)
- Janji Kampanye: Mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% dalam satu periode masa jabatan.
- Realisasi (2025 – April 2026): * Pada kuartal II-2025, pertumbuhan tercatat stabil di angka 5,12%.
- Untuk tahun anggaran 2026, pemerintah memasang target realistis sebesar 5,4%.
- Analisis: Angka 8% tetap menjadi target jangka menengah. Saat ini, mesin pertumbuhan digerakkan oleh penguatan hilirisasi komoditas dan dorongan konsumsi domestik melalui program padat karya. Tantangan utama tetap pada ketidakpastian geopolitik global yang menekan ekspor.
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
- Janji Kampanye: Menciptakan 19 juta lapangan kerja baru dan menurunkan pengangguran secara signifikan.
- Realisasi: * Data BPS tahun 2025 menunjukkan penurunan pengangguran menjadi 4,8%, level terendah dalam dua dekade.
- Target 2026 dipatok lebih ambisius di kisaran 4,44% – 4,96%.
- Analisis: Penurunan ini didorong oleh sektor manufaktur dan investasi hijau. Namun, pemerintah menghadapi tantangan tingginya proporsi pekerja sektor informal yang mencapai lebih dari 60%, sehingga kualitas pekerjaan tetap menjadi catatan kritis.
- Inflasi dan Stabilitas Harga
- Janji Kampanye: Menjaga daya beli masyarakat dengan stabilitas harga bahan pokok.
- Realisasi: * Inflasi berhasil dijaga cukup rendah di level 2,65% pada tahun 2025.
- Target 2026 ditetapkan tetap terkendali pada angka 2,5%.
- Analisis: Keberhasilan ini didukung oleh koordinasi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan subsidi energi yang masih dipertahankan, meskipun ruang fiskal mulai menyempit.
- Program Unggulan: Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Janji Kampanye: Program makan siang dan susu gratis untuk siswa serta ibu hamil.
- Realisasi: * Dimulai bertahap sejak 6 Januari 2025 dengan alokasi awal Rp71 triliun.
- Diproyeksikan menyerap 1,5 juta tenaga kerja lokal (petani, peternak, dan juru masak).
- Analisis: Program ini menjadi stimulus ekonomi baru di tingkat desa (multiplier effect). Namun, implementasinya menghadapi tantangan logistik yang besar dan isu standar keamanan pangan di beberapa daerah.
Ringkasan Indikator Ekonomi (Target vs Realisasi)
Indikator | Target Kampanye/2026 | Realisasi (Estimasi 2025/2026) | Status |
Pertumbuhan GDP | 8% (Jangka Panjang) / 5,4% (2026) | 5,1% – 5,2% | On Track (Bertahap) |
Inflasi | 2,5% | 2,65% | Terkendali |
Pengangguran | 4,4% – 4,9% | 4,8% | Tercapai |
Defisit APBN | < 3% PDB | 2,48% (RAPBN 2026) | Disiplin Fiskal |
Kesimpulan
Satu setengah tahun berjalan, pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan komitmen kuat pada stabilitas fiskal dan pengurangan pengangguran. Meski target pertumbuhan 8% belum terlihat dalam waktu dekat, pondasi ekonomi melalui hilirisasi dan program sosial (MBG) mulai memberikan dampak pada ekonomi kerakyatan. Tantangan terbesar ke depan adalah menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% sambil mendanai program-program besar yang membutuhkan biaya tinggi.
