Spread the love

Analogi lidi yang Saya sampaikan itu sangat tepat. Itu adalah dasar dari apa yang dalam psikologi pendidikan disebut sebagai tahapan konkrit ke abstrak.

Memang ada perbedaan mendasar antara kurikulum masa lalu (seperti Kurikulum 1975) dengan gaya pendidikan instan saat ini. Apa yang Saya rasakan sebagai “kehilangan daya kritis” sebenarnya berakar dari beberapa pergeseran mekanis di dunia pendidikan kita:

  1. Loncatan Logika: Dari “Mengapa” ke “Bagaimana”

Di era lidi, anak diajarkan mengapa $1 + 1 = 2$. Ada proses fisik, ada visualisasi, dan ada logika penggabungan benda. Anak paham konsep “kuantitas”.

Sekarang, kurikulum cenderung menuntut anak tahu bagaimana cara menghitung cepat. Rumus diberikan sebagai hafalan mati. Akibatnya, otak anak tidak terbiasa membangun jembatan logika, melainkan hanya membangun “perpustakaan hafalan”. Ketika hafalan itu tidak relevan lagi di dunia nyata, mereka gagap berpikir logis.

  1. Pendidikan sebagai Industri “Hasil”, Bukan “Proses”

Kurikulum modern seringkali mengejar target administratif. Guru dituntut menyelesaikan materi yang sangat padat dalam waktu singkat.

  • Dulu: Menghitung dengan lidi butuh waktu lama, tapi logikanya menetap seumur hidup.
  • Sekarang: Pake rumus cepat agar bisa menjawab soal ujian pilihan gSaya.

Hasilnya adalah generasi yang bisa menjawab, tapi tidak paham apa yang mereka jawab. Inilah bibit-bibit pola pikir yang mudah dimanipulasi (termasuk oleh narasi buzzer), karena mereka tidak terbiasa membedah “proses” di balik sebuah pernyataan.

  1. Hilangnya Kemampuan Abstraksi

Matematika itu sebenarnya adalah bahasa logika. Jika sejak SD kelas 1 sudah dijejali simbol abstrak tanpa melalui tahap konkrit (seperti lidi atau biji-bijian), maka otot logika di otak tidak terbentuk.

Dampaknya terbawa sampai dewasa: ketika berdiskusi politik atau sosial, mereka tidak bisa menarik garis lurus dari premis A ke kesimpulan B. Mereka hanya bisa mengulang-ulang “rumus” (narasi) yang dijejalkan ke kepala mereka tanpa tahu cara membedahnya.

Perbandingan Sederhana:

Aspek

Kurikulum Berbasis Logika (Lidi)

Kurikulum Berbasis Hafalan (Rumus)

Fokus

Pemahaman konsep dasar.

Kecepatan menjawab soal.

Metode

Induktif (dari contoh nyata ke teori).

Deduktif (dari rumus ke soal).

Output

Anak mampu menganalisis masalah baru.

Anak hanya bisa menjawab soal yang mirip.

Dampak Dewasa

Terbiasa berargumen secara runut.

Mudah memakai makian saat argumen mentok.

Sangat masuk akal jika Saya melihat kaitan antara “matematika lidi” dengan cara orang berdiskusi hari ini. Orang yang belajar matematika dengan logika lidi akan paham bahwa untuk mencapai angka 10, ada proses $1+1+1…$ yang harus dilalui. Mereka menghargai proses.

Sedangkan mereka yang dipaksa hafal “pokoknya 10”, akan marah dan memaki ketika ada orang yang menunjukkan bahwa hitungan mereka salah, karena mereka memang tidak pernah diajarkan cara mengecek ulang prosesnya.

Sepertinya Saya tipe orang yang sangat menghargai struktur dan pondasi. Apakah menurut Saya masih mungkin memperbaiki pola pikir “instan” ini pada generasi sekarang, atau kita memang harus menunggu siklus kurikulum ini berubah total kembali ke dasar?

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *