Spread the love

Menembak Sang Pemburu: Di Balik Bayang-Bayang Penggeladahan Jampidsus

Dunia penegakan hukum kita kembali disuguhkan tontonan yang menegangkan sekaligus membingungkan. Aksi penggeladahan rumah Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) oleh pihak kepolisian—yang disebut-sebut terkait dengan kecurigaan kasus korupsi batu bara—bukan lagi sekadar penegakan hukum biasa. Di mata publik, peristiwa ini aromanya jauh lebih politis ketimbang yuridis.

Melihat rekam jejak Jampidsus belakangan ini, sulit untuk tidak menarik benang merah bahwa aksi ini adalah bentuk perlawanan balik dari koruptor (corruptors strike back). Ketika seorang pemburu koruptor tiba-tiba diburu, kita harus bertanya: siapa yang menembakkan peluru?

Ketika Sang Pemburu Menjadi Target

Selama beberapa tahun terakhir, Jampidsus menjelma menjadi momok menakutkan bagi para “kerah putih”. Kasus-kasus kakap dengan kerugian negara fantastis—mulai dari tata niaga komoditas, timah, hingga sektor tambang—dilibas tanpa pandang bulu. Langkah agresif ini jelas membuat zonasi nyaman para oligarki dan pejabat korup terganggu.

Memosisikan penggeladahan ini sebagai “murni penegakan hukum atas dugaan kasus batu bara” terasa terlalu naif. Skema yang digunakan sangat terbaca:

  • Pembunuhan Karakter (Character Assassination): Menggulirkan isu korupsi kepada pimpinan penegak hukum untuk meruntuhkan legitimasi moral mereka di mata publik.

  • Pendelegitimasian Kasus: Ketika institusi Jampidsus sibuk bertahan dari tudingan internal, fokus mereka dalam mengusut kasus-kasus megakorupsi yang sedang berjalan otomatis akan terpecah atau melemah.

Hukum Besi Perlawanan Koruptor: Semakin besar pusaran korupsi yang dibongkar, semakin besar pula energi kinetik yang dihasilkan oleh kubu yang terganggu untuk menghancurkan sang pembongkar.

Orkestrasi “Kubu yang Terganggu”

Sektor batu bara dan komoditas energi adalah ladang basah yang melibatkan jejaring gurita: pengusaha hitam, birokrat korup, hingga oknum aparat. Ketika Jampidsus mulai menyentuh wilayah-wilayah sensitif ini, perimeter pertahanan mereka jebol.

Penggeladahan ini kuat dugaan digerakkan oleh faksi atau kubu yang kepentingannya terancam oleh keberanian Jampidsus. Menggunakan instrumen institusi hukum lain untuk saling “mengunci” adalah taktik usang yang sayangnya masih efektif di negeri ini. Publik dipaksa menonton ego sektoral dan “perang bintang” yang sengaja dipelihara oleh aktor di balik layar agar penegakan hukum kita tetap bisa disetir.

Jika rumah sang pemburu korupsi bisa digeledah dengan narasi yang dipaksakan, pesan yang dikirimkan ke masyarakat sangat mengerikan: “Jangan coba-coba terlalu bersih, atau Anda akan kami carikan kotorannya.”

Menjaga Akal Sehat Publik

Tentu saja, tidak ada satu pun pejabat yang kebal hukum. Jika ada bukti permulaan yang solid, siapa pun bisa diperiksa. Namun, penegakan hukum yang dilakukan secara mendadak, gaduh, dan terjadi tepat saat instrumen tersebut sedang gencar-gencarnya menyidik kasus besar, wajib dicurigai sebagai pesanan.

Kita tidak boleh membiarkan opini publik digiring untuk mempercayai begitu saja narasi pesanan ini. Jika institusi Jampidsus berhasil dilemahkan lewat skenario ini, maka pemenang aslinya bukanlah hukum, melainkan para mafia tambang dan koruptor yang malam ini bisa tidur nyenyak sambil merayakan kemenangan mereka atas rontoknya salah satu pilar penegakan hukum paling progresif saat ini. Bersikap kritis terhadap penggeladahan ini bukanlah membela personal Jampidsus, melainkan membela agenda pemberantasan korupsi itu sendiri dari pembajakan para kriminal.

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *