JAKARTA – Jagat media sosial dan ruang publik dihebohkan oleh pengakuan mengejutkan dari sejumlah oknum mahasiswa yang mengaku berasal dari Universitas Bung Karno (UBK). Mereka mengklaim telah menerima uang suap sebesar Rp 20 juta per orang agar membatalkan rencana aksi demonstrasi di depan Istana Negara, dan beralih menggelar pertemuan santai dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kabar ini pertama kali mencuat setelah sebuah rekaman video pendek yang memperlihatkan pengakuan beberapa mahasiswa berpakaian kasual beredar luas di platform TikTok dan X (dahulu Twitter) sejak Selasa malam.
Dalam video tersebut, salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan identitas lengkapnya menyatakan bahwa sedianya mereka akan bergabung dalam aliansi besar untuk menggelar aksi unjuk rasa terkait isu kebijakan ekonomi nasional. Namun, rencana tersebut mendadak berubah di menit-menit terakhir sebelum massa bergerak menuju kawasan Monas.
“Awalnya kita sudah siap konsolidasi untuk turun ke jalan. Tapi malam harinya, ada pihak yang menghubungi koordinator kami. Kami diajak bertemu dan langsung ditawari dana Rp 20 juta per kepala. Syaratnya cuma satu: batal ikut demo, lalu besoknya datang ke agenda pertemuan tertutup untuk bersapa ria dan foto bersama Pak Wapres,” ujar mahasiswa tersebut dalam rekaman video yang kini viral.
Pertemuan yang dimaksud diduga kuat merupakan agenda ramah tamah informal yang terjadi di salah satu ruangan terpisah, di mana dalam foto-foto yang beredar, tampak sejumlah pemuda berbincang hangat dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka tanpa mengenakan atribut almamater kampus.
Respons Pihak Kampus UBK
Menanggapi kegaduhan yang menyeret nama institusinya, pihak rektorat Universitas Bung Karno (UBK) langsung bergerak cepat guna melakukan klarifikasi internal.
Saat dihubungi oleh awak media, perwakilan Humas UBK menegaskan bahwa pihak kampus sama sekali tidak pernah terlibat, mengetahui, ataupun mendukung tindakan transaksional yang mencederai integritas gerakan mahasiswa tersebut.
“Kami sedang menelusuri kebenaran identitas mahasiswa yang ada di dalam video tersebut. Jika benar mereka adalah mahasiswa aktif UBK, kami sangat menyayangkan tindakan tersebut. Kampus UBK selalu menjunjung tinggi kebebasan berpendapat yang murni, kritis, dan independen. Kami tidak membenarkan segala bentuk politisasi kemahasiswaan, apalagi jika ada unsur gratifikasi atau suap,” tegas perwakilan Humas UBK dalam keterangan resminya, Rabu (24/6).
Gelombang Kritik dari Aliansi Mahasiswa
Pengakuan ini sontak memicu reaksi keras dari berbagai aliansi mahasiswa lainnya yang tetap melangsungkan aksi unjuk rasa di lapangan. Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah universitas di Jakarta mengecam keras tindakan oknum tersebut yang dinilai telah “menjual” idealisme demi kepentingan materi sesaat.
“Ini adalah pukulan telak bagi gerakan moral mahasiswa. Di saat rakyat sedang menjerit karena kondisi ekonomi, sangat miris melihat ada oknum yang justru memanfaatkan momentum gerakan untuk memperkaya diri dan menjadi alat pencitraan politik kekuasaan,” ungkap salah satu koordinator lapangan aliansi mahasiswa di depan patung kuda.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana maupun juru bicara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan pemberian uang atau pengondisian massa mahasiswa tersebut. Akun-akun media sosial yang menyebarkan video pengakuan tersebut terus dibanjiri ribuan komentar dari warganet yang menuntut pengusutan tuntas atas kebenaran informasi ini.
