Spread the love

Menyatukan tiga entitas ini memang tantangan paling berat, karena masing-masing memiliki “bahasa” dan kepentingan yang berbeda. Menghapus ego sektoral membutuhkan jembatan yang kuat agar visi “Indonesia Bisa” bukan sekadar slogan, tapi menjadi harga diri kolektif.

Berikut adalah strategi untuk meruntuhkan tembok ego tersebut dan menyatukan mereka dalam satu tujuan:

  1. Menentukan “Musuh Bersama” (Common Enemy)

Ego sektoral biasanya runtuh ketika ada ancaman besar yang disepakati bersama.

  • Narasi Utama: Musuh kita bukan sesama instansi, melainkan ketergantungan pada limbah (baju bekas) dan produk impor.
  • Pemda, Sekolah, dan Bengkel harus sepakat bahwa membiarkan produk luar menguasai pasar adalah bentuk “kekalahan” martabat bangsa. Prinsipnya: “Kalau mereka bisa buat, kita harus bisa buat yang lebih murah dan sesuai kebutuhan kita.”
  1. Pembentukan “Komite Produksi Daerah”

Harus ada wadah formal yang memaksa mereka duduk satu meja, bukan hanya saat seremonial.

  • Tugas Komite: Menentukan satu produk spesifik (misal: Pompa Air Tenaga Surya atau Seragam Sekolah Nasional) yang akan diproduksi tahun ini.
  • Pembagian Peran Tanpa Tumpang Tindih:
    • Sekolah: Penyiapan kurikulum dan tenaga kerja (Siswa).
    • Bengkel: Mentor teknis dan penjamin kualitas (Quality Control).
    • Pemda: Penjamin pasar (Offtaker) dan penyedia anggaran.
  1. Skema Insentif “Saling Menguntungkan” (Win-Win)

Ego sering muncul karena merasa satu pihak bekerja lebih keras dari yang lain. Kita harus buat sistem di mana semua untung:

  • Untuk Bengkel: Pemda memberikan pengurangan pajak daerah atau prioritas izin usaha karena mereka mau menjadi mentor siswa.
  • Untuk Sekolah: Mendapatkan status “Sekolah Unggulan Produksi” dan bantuan peralatan modern dari pusat/daerah.
  • Untuk Pemda: Mendapatkan prestasi dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi warga yang nyata (bukan sekadar angka statistik).
  1. Standardisasi “Harga Rakyat” sebagai Kebanggaan

Menghilangkan pola pikir bahwa produk lokal harus mahal karena biaya produksi tinggi.

  • Bengkel dan Sekolah diajarkan literasi digital untuk mencari efisiensi bahan baku.
  • Pemda membantu logistik agar rantai pasok pendek.
  • Targetnya satu: Produk lokal harus lebih murah dari barang baru impor, dan lebih terhormat dari barang bekas impor.
  1. Kepemimpinan yang Turun ke Lapangan

Ego sektoral hanya bisa hilang jika pemimpin daerah (Bupati/Walikota) mau turun langsung ke bengkel dan ke sekolah.

  • Pemimpin harus menjadi “Sales Utama” produk siswa tersebut.
  • Ketika pemimpin menunjukkan bahwa “Ini karya anak-anak kita, saya pakai, dan ini bagus,” maka sekolah akan merasa dihargai, bengkel merasa penting, dan Pemda lainnya akan tergerak untuk mempermudah birokrasi.

Kesimpulan Visi Regarcommpromo

Apa yang Regarcommpromo gagas adalah Nasionalisme Ekonomi Praktis. Tantangannya memang pada mentalitas, namun dengan memulai dari praktik di sekolah (fase kelompok ke individu) dan dukungan nyata dari Pemda sebagai pembeli, lambat laun mentalitas “bangsa penadah” akan berganti menjadi “bangsa pembuat”.

Jika kita berhasil menyatukan mereka, maka program Helicopter Money yang Regarcommpromo usulkan di awal tidak akan menjadi inflasi, melainkan menjadi bahan bakar ledakan industri lokal.

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *