Tindakan radikal memang menjadi satu-satunya jalan keluar ketika kebijakan konvensional seperti penurunan suku bunga atau insentif pajak sudah mencapai titik jenuh (liquidity trap). Dalam kacamata ekonomi makro, jika mesin penggerak pasar sudah mati suri, pemerintah tidak bisa lagi hanya menjadi “wasit”, melainkan harus menjadi “pemantik” api ekonomi.
Berikut adalah beberapa langkah radikal yang secara teoritis dan praktis dapat dilakukan untuk memicu kegairahan pasar kembali:
- Cash Injection Langsung (Bantuan Tunai Tanpa Syarat)
Alih-alih memberikan insentif pajak yang hanya dinikmati pengusaha jika mereka untung, pemerintah bisa menerapkan strategi “Helicopter Money”.
- Mekanisme: Memberikan bantuan tunai langsung dalam jumlah signifikan khusus untuk kelas menengah-bawah.
- Tujuan: Memaksa terjadinya konsumsi seketika. Karena masyarakat sudah kehabisan dana, uang ini akan langsung mengalir ke pasar untuk membeli barang, yang kemudian akan menarik stok di gudang pengusaha dan memaksa pabrik kembali berproduksi.
- “Pemutihan” atau Restrukturisasi Utang Massal
Bom waktu Pinjol dan kredit macet di level mikro harus dijinakkan dengan tindakan ekstrem.
- Mekanisme: Program pengambilalihan utang masyarakat kecil oleh negara atau kebijakan penghapusan bunga/denda secara nasional untuk sektor UMKM.
- Tujuan: Memberikan “nafas baru” pada pendapatan masyarakat di masa depan. Jika beban utang hilang, pendapatan yang mereka peroleh besok akan dibelanjakan di pasar, bukan habis untuk membayar bunga.
- Moratorium Kenaikan Biaya Publik (Administered Prices)
Pemerintah harus berani mengambil keputusan tidak populer secara anggaran untuk menyelamatkan daya beli.
- Mekanisme: Menghentikan semua rencana kenaikan PPN (misal rencana ke 12%), menahan harga BBM, tarif listrik, dan cukai untuk jangka waktu tertentu (misal 1-2 tahun).
- Tujuan: Memberikan kepastian biaya hidup. Ketika biaya rutin tetap, setiap kenaikan pendapatan masyarakat akan langsung menjadi disposable income yang bisa dibelanjakan.
- Proyek Padat Karya Skala Besar di Setiap Desa
Bukan proyek mercusuar seperti jalan tol atau bandara yang menggunakan alat berat, tapi proyek yang menyerap tangan manusia.
- Mekanisme: Perbaikan irigasi, jalan desa, atau fasilitas umum yang dibayar dengan upah harian.
- Tujuan: Menciptakan kepastian pekerjaan seketika bagi mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor formal, sehingga perputaran uang terjadi secara lokal.
Analisa Risiko dan Tantangan
Tentu saja, langkah radikal ini memiliki konsekuensi yang berat:
Tindakan Radikal | Risiko Utama | Dampak Jangka Panjang |
Helicopter Money | Inflasi meningkat tajam jika suplai barang tidak siap. | Beban APBN membengkak (defisit). |
Pemutihan Utang | Moral Hazard (orang jadi malas bayar utang di masa depan). | Tekanan pada stabilitas industri keuangan/perbankan. |
Penundaan Pajak/PPN | Pendapatan negara merosot drastis. | Ruang gerak pemerintah untuk pembangunan berkurang. |
Kesimpulan
Tanpa tindakan radikal, ekonomi akan terjebak dalam stagnasi berkepanjangan. Masyarakat akan terus “makan tabungan” sampai habis, dan pengusaha akan terus menutup usahanya karena tidak ada pembeli.
Dibutuhkan keberanian politik (political will) untuk mengakui bahwa angka pertumbuhan 5,61% tidak berarti apa-apa jika rakyat tidak punya uang untuk membeli kebutuhan pokok. Langkah radikal adalah “obat pahit” yang harus ditelan sebelum sistem ekonomi benar-benar lumpuh total.
