Berikut ROADMAP DEDOLARISASI INDONESIA 10 TAHUN (2026–2035) yang realistis, aman, bertahap, dan sesuai kepentingan nasional, disusun seperti dokumen kebijakan negara (bukan wacana politik).
ROADMAP DEDOLARISASI INDONESIA 2026–2035
PRINSIP DASAR
- Stabilitas lebih penting dari kecepatan
- Diversifikasi, bukan konfrontasi
- Berbasis kekuatan ekonomi riil
- Sinkron BI – Kemenkeu – Kemlu – BUMN
FASE I (2026–2028)
Fondasi Aman & Teknis
Target Utama
- Ketergantungan dolar turun tanpa gejolak pasar
- Infrastruktur keuangan siap
Kebijakan Kunci
- Ekspansi Local Currency Transaction (LCT)
- 70% perdagangan ASEAN pakai mata uang lokal
- Ekspansi ke:
- China
- India
- Korea
- Uni Emirat Arab
- Perluasan Currency Swap
- BI ↔ PBOC (China)
- BI ↔ RBI (India)
- BI ↔ SARB (Afrika Selatan)
- BI ↔ BCB (Brasil)
- Diversifikasi Cadangan Devisa
- USD diturunkan bertahap
- Tambah:
- Emas
- Yuan
- SDR IMF
- Narasi Diplomasi
- “Stabilitas Sistem Keuangan Global”
- Hindari retorika anti-AS
Risiko
- Sangat rendah
FASE II (2029–2031)
Implementasi Sektoral & Regional
Target Utama
- Dolar bukan lagi default
- Rupiah lebih berperan regional
Kebijakan Kunci
- Komoditas Strategis Non-USD
- Batu bara ke India
- Nikel ke China
- CPO ke Afrika & Timur Tengah
- Gas LNG kontrak jangka panjang
- Sistem Pembayaran Alternatif
- QRIS Cross-border BRICS
- Integrasi ASEAN Payment Connectivity
- Uji coba BRICS Pay
- Penguatan Pasar Keuangan Domestik
- Pasar obligasi rupiah diperdalam
- Investor institusi regional ditarik
- Peningkatan Hedging Valas
- Lindungi eksportir & importir
- Minimalkan volatilitas rupiah
Risiko
- Rendah – sedang (terkendali)
FASE III (2032–2033)
Konsolidasi & Inovasi
Target Utama
- Rupiah makin dipercaya
- Dolar jadi salah satu opsi, bukan dominan
Kebijakan Kunci
- Digital Rupiah (CBDC) Lintas Negara
- Uji coba perdagangan B2B BRICS
- Fokus:
- Efisiensi
- Transparansi
- Kecepatan
- Cadangan Devisa Multi-Aset
- Emas sebagai jangkar stabilitas
- Kurangi exposure terhadap gejolak The Fed
- Pembentukan Clearing House Regional
- Jakarta sebagai hub keuangan Asia Tenggara
Risiko
- Sedang (butuh manajemen ketat)
FASE IV (2034–2035)
Kemandirian Terukur
Target Utama
- Indonesia relatif kebal guncangan dolar
- Perdagangan global fleksibel
Kebijakan Kunci
- 50–60% Perdagangan Non-USD
- Terutama:
- BRICS
- ASEAN
- Global South
- Kontrak Energi & Komoditas Rupiah-Based
- Skema jangka panjang
- Lindungi stabilitas nasional
- Kepemimpinan Regional
- Indonesia sebagai arsitek keuangan Global South
- Model dedolarisasi aman
Risiko
- Rendah jika fondasi kuat
INDIKATOR KEBERHASILAN (KPI)
Indikator | 2025 | 2035 |
Pangsa USD cadangan devisa | >80% | <50% |
Perdagangan non-USD | <20% | 50–60% |
Swap agreement aktif | Terbatas | BRICS + ASEAN |
Volatilitas Rupiah | Tinggi | Terkendali |
POTENSI MANFAAT NASIONAL
Rupiah lebih stabil
Inflasi impor menurun
Tekanan eksternal berkurang
Posisi tawar Indonesia naik
Kedaulatan ekonomi meningkat
CATATAN STRATEGIS (PENTING)
Dedolarisasi GAGAL jika:
- Defisit neraca berjalan besar
- Ketergantungan impor energi & pangan tinggi
- Retorika politik agresif
Dedolarisasi BERHASIL jika:
- Industrialisasi jalan
- Hilirisasi konsisten
- Stabilitas fiskal terjaga

Trump Cekcok Dengan Netanyahu Usai Negosiasi Iran Terancam


Kakek Mujiran Kini Bebas Dari Kasus Ambil Sisa Getah Karet

FIFA Matchday Juni 2026, Timnas Indonesia Matangkan Skuad


