Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling media sosial, lalu baca sebuah komentar atau cuitan pendukung garis keras pemerintah (yang sering dilabeli netizen sebagai buzzer) dan seketika merasa, “Hah? Ini nyambungnya di mana?”
Banyak yang merasa bahwa pola pikir yang ditampilkan seringkali keluar dari jalur logika orang sehat. Tapi sebenarnya, apakah mereka benar-benar “nggak punya logika”, atau ada sesuatu yang lain di baliknya? Mari kita bedah pelan-pelan.
1. “Confirmation Bias” yang Sudah Akut
Masalah utamanya bukan mereka tidak pintar, tapi mereka hanya mau menerima informasi yang memvalidasi idola mereka. Dalam psikologi, ini disebut Confirmation Bias.
Bagi para pendukung fanatik, narasi yang dibangun adalah: “Idola saya selalu benar.” Jadi, ketika ada fakta nyata yang menunjukkan kesalahan, otak mereka secara otomatis mencari jalan pintas untuk memelintir fakta tersebut agar tetap terlihat benar. Hasilnya? Argumen yang dipaksakan dan terasa ajaib bagi orang awam.
2. Narasi “Yang Penting Kerja” vs. Esensi Kebijakan
Generasi Z yang terjun di dunia buzzer seringkali terjebak pada simbolisme. Mereka lebih fokus pada visualisasi pembangunan atau gaya komunikasi yang merakyat ketimbang substansi kebijakan atau dampak jangka panjang.
Contohnya: Saat ada kritik soal hutang negara, jawabannya malah “Tapi kan jalannya sudah mulus sampai pelosok.” Secara logika, ini adalah Logical Fallacy berjenis Red Herring—mengalihkan isu utama ke hal lain yang terlihat positif tapi nggak menjawab masalah.
3. Ekonomi Perhatian: Kecepatan di Atas Kebenaran
Di industri media sosial, yang cepatlah yang menang. Para buzzer ini dituntut untuk langsung “menangkis” serangan kritik dalam hitungan menit.
Karena dikejar durasi, mereka nggak sempat riset.
Akhirnya, mereka pakai template argumen yang itu-itu saja (SOP).
Kalau sudah mentok, jurus terakhirnya adalah ad hominem (menyerang pribadi orang yang kritik, bukan argumennya).
4. Bubble Filter (Ruang Gema)
Algoritma media sosial itu jahat dalam tanda kutip. Dia hanya menyodorkan apa yang kita suka. Anak muda yang masuk ke lingkaran ini hanya bergaul dengan sesama mereka. Akibatnya, mereka merasa narasi mereka adalah kebenaran mutlak karena semua orang di “lingkaran” mereka mengatakan hal yang sama. Mereka kehilangan kemampuan untuk melihat perspektif luar, sehingga saat bicara di depan publik umum, omongan mereka terdengar sangat asing dan nggak masuk akal.
Kesimpulan: Bukan Nggak Sehat, Tapi “Terdistorsi”
Sebenarnya, ini bukan soal mereka “sakit” secara mental, tapi lebih kepada logika yang dikompromikan demi kepentingan. Ada perpaduan antara fanatisme, kebutuhan ekonomi (namanya juga kerjaan), dan tekanan lingkungan digital.
Kenyataannya, logika yang sehat butuh keterbukaan untuk menerima kesalahan. Tanpa itu, argumen setinggi langit pun akan terdengar seperti dongeng bagi mereka yang masih pakai akal sehat
