Spread the love

1. Mengubah Analogi: Dari “Gedung” ke “Karyawan”

Masyarakat sering merasa rugi membayar ratusan ribu per tahun untuk sesuatu yang tidak terlihat.

  • Narasi Baru: Jangan sebut website itu “biaya”, sebutlah sebagai “Karyawan yang bekerja 24 jam”.

  • Pesan: “Coba bayangkan, untuk menggaji satu admin yang menjawab pertanyaan pelanggan 24 jam, Anda butuh jutaan rupiah per bulan. Dengan website (domain .my.id + hosting), Anda hanya keluar biaya seharga satu porsi makan siang per bulan untuk ‘karyawan’ yang tidak pernah tidur.”

2. Membedakan “Media Sosial” dengan “Website”

Banyak orang merasa sudah cukup dengan Instagram atau TikTok karena gratis. Kita perlu memberikan edukasi tentang Kepemilikan (Ownership).

  • Narasi: Media sosial adalah “Rumah Kontrakan”. Jika platform tersebut tutup atau akun Anda kena banned, semua usaha Anda hilang.

  • Pesan: “Website dengan domain sendiri adalah ‘Rumah Milik Sendiri’. Anda punya sertifikatnya (domain) dan kunci pintunya (hosting). Tidak ada yang bisa mengusir Anda dari sana.”

3. Transparansi Harga: Paket “Go Digital” Murah

Agar masyarakat tidak kaget dengan harga .com atau .id, buatlah paket yang menggunakan .my.id sebagai pahlawan ekonomi.

  • Strategi: Tunjukkan perbandingan harga secara jujur namun menarik.

    • Paket Profesional (.com): Rp 1.500.000,- (Untuk Perusahaan Besar)

    • Paket Rakyat (.my.id): Rp 250.000,- (Untuk UMKM & Personal)

  • Tujuan: Dengan melihat ada opsi yang sangat terjangkau, alasan “mahal” akan gugur dengan sendirinya.

4. Pentingnya Pengetatan Verifikasi (KTP)

Setuju dengan poin Anda, pengetatan pendaftaran .my.id dengan KTP sebenarnya adalah fitur keamanan, bukan hambatan.

  • Edukasi ke Publik: “Kenapa pakai KTP? Agar pembeli Anda merasa aman. Kalau Anda jualan di website .my.id, orang tahu bahwa pemiliknya adalah orang asli yang terverifikasi, bukan akun palsu atau robot.”

  • Dampak: Ini menaikkan kelas domain murah dari sekadar “murah” menjadi “terpercaya”.

5. Menonjolkan “Gengsi” Identitas Nasional

Gunakan sentimen kebanggaan untuk melawan dominasi .com.

  • Narasi: “Orang luar negeri punya .me atau .com. Kita orang Indonesia punya .id dan .my.id. Ini adalah identitas resmi di internet Indonesia.”


Contoh Iklan yang Menggerakkan:

“Jangan Mau Jadi ‘Tunawisma’ di Internet!”

Masih jualan cuma numpang di medsos orang? Hati-hati, kalau akunnya hilang, bisnisnya ikut hilang. Sekarang buat website resmi nggak perlu mahal. Dengan domain .my.id, Anda punya alamat resmi yang terdaftar, terpercaya dengan KTP, dan harganya lebih murah dari langganan kopi sebulan.

Kredibilitas naik, harga tetap irit

By Ewin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *