WASHINGTON D.C. — Dokumen awal Nota Kesepahaman (MOU) yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad mengungkap cetak biru perdamaian yang dirancang pemerintahan Donald Trump untuk menghentikan perang besar di Asia Barat.
Meskipun draf ini menawarkan jalan keluar segera bagi krisis energi global, klausul di dalamnya memicu alarm bahaya di Tel Aviv. Israel menilai poin-poin kompromi tersebut terlalu banyak menguntungkan Teheran dan mengancam keamanan eksistensial mereka.
Berikut adalah 5 poin utama dalam draf MOU tersebut beserta peta konfliknya:
1. Gencatan Senjata Segera dan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Isi Draf: AS dan Iran menyepakati penghentian permusuhan (cessation of hostilities) secara total dalam waktu $2 \times 24$ jam setelah penandatanganan. Iran wajib membuka kembali Selat Hormuz secara penuh untuk pelayaran internasional dan menjamin keamanan kapal-kapal tanker minyak.
Sikap Israel: Menolak. Israel menilai gencatan senjata saat ini terlalu dini. Militer Israel (IDF) sedang berada dalam momentum ofensif di Lebanon selatan dan Suriah. Penghentian serangan dinilai akan memberi waktu bagi sisa-sisa proksi Iran untuk melakukan konsolidasi, menyusun kembali rantai komando, dan mempersenjatai diri.
2. Pembekuan Program Nuklir, Bukan Demantling (Pembongkaran)
Isi Draf: Iran sepakat untuk menghentikan pengayaan uranium di atas 5% dan bersedia menerima kembali pengawas dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs strategis mereka seperti Natanz dan Fordow. Sebagai imbalannya, infrastruktur nuklir Iran tidak akan dihancurkan.
Sikap Israel: Menolak Keras. Bagi Yerusalem, pembatasan pengayaan saja tidak cukup. Israel menuntut pembongkaran total (total dismantling) seluruh sentrifus dan pemusnahan cadangan uranium Iran. Israel khawatir Iran dapat kembali melakukan pengayaan tingkat persenjataan (90%) dalam hitungan minggu jika kesepakatan ini runtuh di masa depan (breakout time yang terlalu pendek).
3. Pelonggaran Sanksi Ekonomi dan Pengembalian Aset
Isi Draf: Washington berkomitmen untuk mencabut sebagian sanksi minyak dan perbankan yang dijatuhkan selama konflik. Selain itu, AS akan mencairkan aset Iran senilai miliaran dolar yang sempat dibekukan di bank-bank internasional untuk digunakan Teheran dalam rekonstruksi pasca-perang dan bantuan kemanusiaan.
Sikap Israel: Menolak. Tel Aviv berargumen bahwa mencairkan dana segar untuk Iran sama saja dengan mendanai kembali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Israel meyakini dana tersebut tidak akan dipakai untuk rakyat Iran, melainkan dialihkan untuk membiayai kembali jaringan proksi mereka yang sudah melemah akibat perang.
4. Zona Penyangga (Buffer Zone) di Perbatasan Israel
Isi Draf: AS akan menjamin penarikan mundur pasukan proksi Iran (termasuk sisa-sisa Hezbollah) sejauh 20-30 kilometer ke utara Sungai Litani di Lebanon. Pengawasan zona penyangga ini akan diserahkan kepada pasukan multinasional non-Israel.
Sikap Israel: Skeptis/Menolak. Israel tidak lagi memercayai jaminan pihak ketiga atau pasukan internasional (berkaca pada ketidakefektifan Resolusi PBB 1701 di masa lalu). Israel menuntut hak penuh untuk melakukan operasi militer lintas batas secara mandiri (freedom of action) kapan pun mereka mendeteksi adanya ancaman di perbatasan, sebuah poin yang ditolak mentah-mentah oleh Iran dalam draf tersebut.
5. Status Keamanan Regional Tanpa “Regime Change”
Isi Draf: Kesepakatan ini mengakui kedaulatan pemerintahan transisi di Teheran pasca-peristiwa politik awal tahun ini. AS berkomitmen untuk tidak mendukung atau memfasilitasi gerakan bersenjata yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran secara paksa, demi menjaga stabilitas politik regional.
Sikap Israel: Kecewa. Target strategis jangka panjang Israel adalah runtuhnya rezim teokrasi di Iran secara total (Regime Change). Dengan AS memberikan jaminan kelangsungan hidup bagi pemerintahan Iran, Israel merasa dikhianati karena akar masalah—yaitu ideologi anti-Israel dari otoritas Teheran—tetap dibiarkan hidup.
Kesimpulan Pengamat: “Draf MOU ini mencerminkan prioritas utama Trump: ‘America First’ — mengamankan ekonomi, menstabilkan harga minyak global, dan membawa pulang pasukan. Namun bagi Israel, ini adalah masalah hidup dan mati. Perbedaan fundamental inilah yang membuat Israel memilih menjadi faktor penghambat dan siap berjalan sendiri melanjutkan perang jika Washington nekat menandatanganinya.”
