WASHINGTON D.C. – Upaya diplomatik intensif yang dimotori Amerika Serikat untuk mengakhiri perang multinasional dengan Iran kini menghadapi tembok besar. Bukan dari Teheran, melainkan dari sekutu terdekatnya sendiri: Israel.
Ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai—berupa Nota Kesepahaman (MOU) untuk mengakhiri konflik bersenjata dan membuka kembali Selat Hormuz—sudah berada di ambang pintu, Yerusalem secara tegas menolak logika gencatan senjata tersebut dan mendesak agar kampanye militer terus dilanjutkan hingga pemerintahan Iran runtuh total.
Gencatan Senjata di Ambang Pintu, Israel Memilih “Keluar”
Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad sebenarnya telah menghasilkan draf kesepakatan krusial. AS menawarkan pelonggaran sanksi ekonomi dan pembekuan aset sebagai imbalan atas pembatasan ketat program nuklir Iran serta jaminan keamanan di Selat Hormuz.
Namun, Israel secara formal tidak menjadi bagian dari draf MOU tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa menghentikan perang saat ini adalah “kesalahan strategis yang fatal.” Bagi Tel Aviv, menghentikan serangan militer ketika struktur pertahanan Iran baru setengah hancur sama saja dengan memberi waktu bagi Teheran untuk membangun kembali kekuatan proksinya (Hezbollah dan Houthis) serta menyembunyikan sisa-sisa program nuklirnya.
“Kami tidak akan terikat oleh kesepakatan yang dibuat tanpa memperhitungkan keselamatan eksistensial Israel. Kampanye militer ini harus diselesaikan sampai ancaman dari Iran benar-benar musnah,” ujar seorang pejabat tinggi pertahanan Israel yang menolak disebutkan namanya.
Perbedaan Visi Strategis yang Tajam
Keretakan ini mengungkap perbedaan fundamental mengenai tujuan akhir (endgame) dari perang yang pecah sejak Operasi Epic Fury diluncurkan bersama oleh AS dan Israel pada Februari lalu.
| Atribut Strategis | Posisi Amerika Serikat (Gedung Putih) | Posisi Israel (Tel Aviv) |
| Tujuan Utama | Stabilisasi ekonomi global, pembukaan Selat Hormuz, pembatasan nuklir. | Penumpasan total rezim Iran (Regime Change) dan pembubaran total jaringan proksinya. |
| Pendekatan | Pragmatis-Diplomatis (Gencatan senjata 60 hari untuk negosiasi lanjutan). | Militer Maksimalis (Melanjutkan perang tanpa batas hingga kapitulasi penuh). |
| Prioritas Risiko | Menghindari krisis energi global yang berkepanjangan dan biaya perang yang membengkak. | Menolak kompromi apa pun yang menyisakan kemampuan rudal Iran di masa depan. |
Analisis: Mengapa Israel Menjadi Faktor Penghambat?
Para analis intelijen dan hubungan internasional menilai Israel saat ini bertindak sebagai penahan rem (spoiler) utama bagi diplomasi Washington karena tiga alasan utama:
Kehilangan Momentum Emas: Setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di awal konflik, militer Israel menilai moral pertahanan Iran berada di titik terendah. Tel Aviv percaya ini adalah kesempatan sekali seabad untuk menghancurkan musuh bebuyutannya secara permanen.
Ketidakpercayaan pada Kompromi AS: Israel trauma dengan kegagalan perjanjian nuklir masa lalu (JCPOA). Mereka menilai AS terlalu mudah melunak demi menstabilkan harga minyak global yang melonjak akibat blokade Selat Hormuz.
Ketakutan akan Pemulihan Proksi: Kesepakatan damai versi AS menuntut penghentian permusuhan di garis depan Israel-Lebanon. Namun, Israel menilai hal itu hanya akan menyelamatkan Hezbollah dari kehancuran total.
Masa Depan Koalisi yang Dipertaruhkan
Tantangan terbesar bagi Israel saat ini adalah menjaga agar Washington tetap berada di dalam jalur militer yang sama. Tanpa dukungan logistik, intelijen, dan finansial dari Pentagon, Israel akan kesulitan mempertahankan perang intensitas tinggi sendirian melawan Iran dan jaringan proksinya dalam jangka panjang.
Sebaliknya bagi Gedung Putih, penolakan keras dari Israel ini membuat posisi diplomatik AS menjadi canggung di mata internasional. Di satu sisi, Washington harus menepati janji domestik untuk menghentikan perang yang mahal; di sisi lain, mengabaikan kekhawatiran Israel dapat memicu keretakan politik dalam negeri yang masif di Washington.
Kini, nasib perdamaian di Asia Barat berada di ujung tanduk. Apakah Trump mampu memaksa sekutu terkuatnya tunduk pada jalur diplomasi, ataukah determinasi Israel untuk terus berperang akan menyeret kembali Amerika Serikat ke dalam konflik tanpa akhir
