{"id":3167,"date":"2026-09-15T05:47:04","date_gmt":"2026-09-15T05:47:04","guid":{"rendered":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167"},"modified":"2026-09-15T05:58:12","modified_gmt":"2026-09-15T05:58:12","slug":"perbandingan-rasio-utang-terhadap-pdb-indonesia-orde-baru-vs-reformasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167","title":{"rendered":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3167\" class=\"elementor elementor-3167\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-69c61d9 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"69c61d9\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5b8c659 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"5b8c659\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Kalau utang Indonesia sekarang mencapai ribuan triliun rupiah, apakah berarti kondisi utang kita lebih buruk daripada zaman Orde Baru?<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Belum tentu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini adalah salah satu hal yang sering membingungkan ketika kita membandingkan utang Indonesia dari masa ke masa.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Angka utang memang penting. Tetapi ada satu angka lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>rasio utang terhadap PDB.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Bagi sebagian anak muda, istilah ini mungkin terdengar seperti bahasa ekonomi yang rumit.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal konsep dasarnya cukup sederhana.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Rasio utang terhadap PDB membantu kita melihat <strong>seberapa besar utang dibandingkan dengan ukuran ekonomi sebuah negara.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dengan indikator ini, kita bisa melihat sejarah utang Indonesia dengan cara yang lebih adil, termasuk membandingkan masa <strong>Orde Baru, krisis 1998, dan era Reformasi.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apa Itu Rasio Utang terhadap PDB?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Mari kita mulai dari contoh sederhana.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Misalnya kamu mempunyai penghasilan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp100 juta per tahun.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian kamu memiliki utang:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp20 juta.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau dibandingkan dengan penghasilanmu, utang tersebut setara dengan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>20% dari penghasilan tahunan.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sekarang bayangkan temanmu memiliki penghasilan Rp1 miliar per tahun dan utang Rp100 juta.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Nominal utangnya memang lebih besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi jika dibandingkan dengan penghasilannya, utangnya hanya:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>10%.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Siapa yang secara relatif memiliki beban utang lebih besar?<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kamu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal nominal utangmu lebih kecil.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Konsep yang sama digunakan ketika kita melihat negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">PDB dapat dianggap sebagai gambaran ukuran aktivitas ekonomi suatu negara dalam satu tahun.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian utang dibandingkan dengan PDB.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Secara sederhana:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rasio Utang terhadap PDB = Utang \u00f7 PDB \u00d7 100%<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi ketika kita membaca angka rasio utang, kita sedang melihat <strong>ukuran utang relatif terhadap ukuran ekonomi.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kenapa Tidak Cukup Melihat Jumlah Utang?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ini kesalahan yang cukup sering terjadi di media sosial.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Misalnya:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cUtang Indonesia zaman dulu hanya sekian triliun, sekarang sudah ribuan triliun!\u201d<\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Sekilas, kesimpulannya terlihat jelas.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi ada masalah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Indonesia tahun 1970-an bukan Indonesia tahun 2020-an.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ukuran ekonominya berbeda jauh.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jumlah penduduk berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Harga barang berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Nilai rupiah berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Struktur ekonomi berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dan sistem keuangan juga sudah berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, membandingkan nominal utang secara langsung seperti membandingkan harga sebuah rumah 40 tahun lalu dengan harga rumah sekarang tanpa memperhitungkan perubahan nilai uang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Angka nominal harus dibaca bersama konteksnya.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Bagaimana Kondisi Utang pada Masa Orde Baru?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika membicarakan utang Orde Baru, kita sebenarnya sedang membicarakan periode yang cukup panjang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Orde Baru berlangsung lebih dari tiga dekade.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kondisi ekonomi Indonesia pada awal 1970-an tentu tidak sama dengan kondisi pada akhir 1990-an.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada masa awal pembangunan, pemerintah menghadapi keterbatasan penerimaan domestik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu solusi yang digunakan adalah memperoleh pembiayaan dari luar negeri.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pinjaman luar negeri kemudian menjadi salah satu sumber penting untuk membiayai pembangunan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai sektor seperti:<\/p><ul data-spread=\"false\"><li>infrastruktur;<\/li><li>pertanian;<\/li><li>energi;<\/li><li>pendidikan;<\/li><li>kesehatan;<\/li><li>dan pembangunan ekonomi lainnya.<\/li><\/ul><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, ketika kita membicarakan utang Orde Baru, kita tidak boleh langsung menganggap semua pinjaman sebagai sesuatu yang negatif.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sebagian pinjaman memang digunakan sebagai instrumen pembangunan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi ada satu risiko besar yang harus diperhatikan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>utang dalam valuta asing.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Ketika Utang Bertemu dengan Nilai Tukar<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Inilah salah satu pelajaran terpenting dari sejarah utang Indonesia.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Misalnya pemerintah atau perusahaan memiliki utang:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>US$1 juta.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika kurs:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp2.500 = US$1<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">maka nilai utangnya sekitar:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp2,5 miliar.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi jika kurs berubah menjadi:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp10.000 = US$1<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">nilai utang tersebut menjadi:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rp10 miliar.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jumlah dolar yang harus dibayar tetap US$1 juta.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Namun nilai kewajibannya dalam rupiah meningkat sangat besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Inilah yang membuat utang valuta asing memiliki risiko nilai tukar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dan risiko tersebut menjadi sangat penting ketika Indonesia menghadapi krisis 1997\u20131998.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Krisis 1998: Ketika Rasio Utang Melonjak<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau ada satu periode yang sangat penting ketika membahas rasio utang Indonesia, jawabannya adalah:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>krisis 1997\u20131998.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sebelum krisis, rasio utang pemerintah terhadap PDB Indonesia relatif rendah dibandingkan lonjakan yang terjadi setelah krisis.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Namun ketika krisis menghantam, semuanya berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Rupiah jatuh.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Perusahaan mengalami kesulitan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Bank mengalami tekanan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Perekonomian mengalami kontraksi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah harus melakukan restrukturisasi dan penyelamatan sistem keuangan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Akibatnya, beban fiskal pemerintah meningkat sangat tajam.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dokumentasi IMF menunjukkan bahwa rasio utang pemerintah Indonesia melonjak dari tingkat di bawah 25% PDB sebelum krisis menjadi sekitar 100% PDB pada 1998\/1999 jika kewajiban yang berkaitan dengan restrukturisasi perbankan diperhitungkan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Angka tersebut menunjukkan betapa ekstremnya dampak krisis terhadap posisi fiskal Indonesia.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kok Bisa Rasio Utang Naik Sampai Segitunya?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ini bagian yang menarik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Banyak orang mungkin berpikir:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cKalau rasio utang naik, berarti pemerintah pasti meminjam sebanyak itu.\u201d<\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Tidak selalu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ingat rumusnya:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Utang \u00f7 PDB.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau utang meningkat, rasio naik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi kalau <strong>PDB turun<\/strong>, rasio juga bisa naik meskipun utang tidak bertambah dalam jumlah yang sama.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dalam krisis 1998, kedua hal tersebut terjadi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Beban utang meningkat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sementara ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yang sangat dalam.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Akibatnya:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>pembilang naik + penyebut turun = rasio melonjak.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini salah satu alasan mengapa angka rasio utang menjadi sangat penting ketika membaca sejarah krisis ekonomi.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Setelah Krisis: Memasuki Era Reformasi<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Setelah 1998, Indonesia mulai melakukan berbagai perubahan besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tidak hanya dalam bidang politik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pengelolaan ekonomi dan keuangan negara juga berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah mulai memperkuat kerangka pengelolaan fiskal.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pasar keuangan domestik berkembang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dan <strong>Surat Berharga Negara (SBN)<\/strong> semakin menjadi instrumen penting dalam pembiayaan pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini merupakan perubahan penting dibandingkan periode sebelumnya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Indonesia tidak lagi hanya melihat pinjaman luar negeri sebagai sumber pembiayaan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah memiliki pilihan yang lebih beragam.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apa Itu SBN?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Bagi pembaca muda yang belum familiar dengan istilah ini, SBN pada dasarnya adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika pemerintah menerbitkan surat utang dan investor membelinya, pemerintah mendapatkan dana.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sebagai imbalannya, pemerintah memiliki kewajiban membayar kembali pokok serta imbal hasil sesuai ketentuan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">SBN dapat diterbitkan dalam rupiah maupun mata uang asing, tergantung jenis instrumennya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu perkembangan penting setelah Reformasi adalah semakin besarnya peran pasar domestik dalam pembiayaan pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dengan kata lain, sumber pembiayaan Indonesia menjadi lebih beragam.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apakah Rasio Utang Setelah Reformasi Selalu Naik?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Tidak.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini juga penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Perjalanan rasio utang Indonesia setelah krisis tidak bergerak dalam satu arah saja.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Setelah lonjakan ekstrem akibat krisis 1998, rasio utang pemerintah terhadap PDB kemudian menurun secara bertahap dalam periode berikutnya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal, pembayaran utang, perubahan struktur pembiayaan, dan berbagai faktor lainnya memengaruhi pergerakan rasio tersebut.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Namun kemudian Indonesia kembali menghadapi guncangan besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satunya adalah pandemi COVID-19.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pandemi membuat pemerintah meningkatkan belanja untuk menangani kesehatan, menjaga daya beli masyarakat, dan mendukung pemulihan ekonomi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Akibatnya, rasio utang kembali meningkat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini menunjukkan sesuatu yang menarik:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Rasio utang bukan angka yang selalu naik atau selalu turun.<\/strong><\/p><p>Ia bergerak mengikuti kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-ebde94f e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"ebde94f\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-ce12a31 elementor-widget elementor-widget-gallery\" data-id=\"ce12a31\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-settings=\"{&quot;columns&quot;:2,&quot;lazyload&quot;:&quot;yes&quot;,&quot;gallery_layout&quot;:&quot;grid&quot;,&quot;columns_tablet&quot;:2,&quot;columns_mobile&quot;:1,&quot;gap&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;gap_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;gap_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;link_to&quot;:&quot;file&quot;,&quot;aspect_ratio&quot;:&quot;3:2&quot;,&quot;overlay_background&quot;:&quot;yes&quot;,&quot;content_hover_animation&quot;:&quot;fade-in&quot;}\" data-widget_type=\"gallery.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery__container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<a class=\"e-gallery-item elementor-gallery-item elementor-animated-content\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124308.267.jpg\" data-elementor-open-lightbox=\"yes\" data-elementor-lightbox-slideshow=\"ce12a31\" data-elementor-lightbox-title=\"images - 2026-09-15T124308.267\" data-e-action-hash=\"#elementor-action%3Aaction%3Dlightbox%26settings%3DeyJpZCI6MzE2NiwidXJsIjoiaHR0cHM6XC9cL3JlZ2FyY29tbXByb21vLm15LmlkXC93cC1jb250ZW50XC91cGxvYWRzXC8yMDI2XC8wOVwvaW1hZ2VzLTIwMjYtMDktMTVUMTI0MzA4LjI2Ny5qcGciLCJzbGlkZXNob3ciOiJjZTEyYTMxIn0%3D\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-gallery-image elementor-gallery-item__image\" data-thumbnail=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124308.267-300x297.jpg\" data-width=\"300\" data-height=\"297\" aria-label=\"\" role=\"img\" ><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery-item__overlay\"><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<a class=\"e-gallery-item elementor-gallery-item elementor-animated-content\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-14T095007.381-1.jpg\" data-elementor-open-lightbox=\"yes\" data-elementor-lightbox-slideshow=\"ce12a31\" data-elementor-lightbox-title=\"images - 2026-09-14T095007.381\" data-e-action-hash=\"#elementor-action%3Aaction%3Dlightbox%26settings%3DeyJpZCI6MzE2NCwidXJsIjoiaHR0cHM6XC9cL3JlZ2FyY29tbXByb21vLm15LmlkXC93cC1jb250ZW50XC91cGxvYWRzXC8yMDI2XC8wOVwvaW1hZ2VzLTIwMjYtMDktMTRUMDk1MDA3LjM4MS0xLmpwZyIsInNsaWRlc2hvdyI6ImNlMTJhMzEifQ%3D%3D\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-gallery-image elementor-gallery-item__image\" data-thumbnail=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-14T095007.381-1-300x170.jpg\" data-width=\"300\" data-height=\"170\" aria-label=\"\" role=\"img\" ><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery-item__overlay\"><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-951d84c e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"951d84c\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0bb68ca elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"0bb68ca\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1>Jadi Bagaimana Perbandingan Orde Baru dan Reformasi?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Kita bisa melihatnya secara sederhana berdasarkan fase.<\/p><table><tbody><tr><th>Periode<\/th><th>Gambaran Umum Rasio Utang<\/th><th>Konteks<\/th><\/tr><tr><td>Awal Orde Baru<\/td><td>Relatif tinggi kebutuhan pembiayaan pembangunan, tetapi kondisi berubah seiring waktu<\/td><td>Pembangunan dan keterbatasan penerimaan domestik<\/td><\/tr><tr><td>1970\u20131980-an<\/td><td>Berfluktuasi<\/td><td>Pinjaman luar negeri menjadi sumber pembiayaan penting<\/td><\/tr><tr><td>Awal\u2013pertengahan 1990-an<\/td><td>Relatif terkendali<\/td><td>Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro<\/td><\/tr><tr><td>1997\u20131999<\/td><td><strong>Melonjak sangat tajam<\/strong><\/td><td>Krisis Asia, depresiasi rupiah, restrukturisasi perbankan<\/td><\/tr><tr><td>Awal Reformasi<\/td><td>Menurun dari level krisis<\/td><td>Konsolidasi ekonomi dan fiskal<\/td><\/tr><tr><td>2000-an<\/td><td>Cenderung menurun<\/td><td>Pertumbuhan ekonomi dan perbaikan pengelolaan fiskal<\/td><\/tr><tr><td>2010-an<\/td><td>Meningkat secara nominal, tetapi rasio tetap perlu dilihat dalam konteks PDB<\/td><td>Pembangunan dan kebutuhan pembiayaan<\/td><\/tr><tr><td>Pandemi COVID-19<\/td><td>Meningkat<\/td><td>Belanja penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi<\/td><\/tr><tr><td>Pasca-pandemi<\/td><td>Mulai disesuaikan kembali<\/td><td>Konsolidasi fiskal dan pemulihan ekonomi<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Catatan:<\/strong> tabel tersebut adalah gambaran historis. Untuk perbandingan angka tahunan yang presisi, kita perlu menggunakan seri data resmi dengan definisi utang yang konsisten karena definisi dan cakupan statistik dapat berbeda antarperiode.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kenapa Utang Sekarang Terlihat Jauh Lebih Besar?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Karena secara nominal memang jauh lebih besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi ada alasan yang sangat sederhana:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Ekonomi Indonesia juga jauh lebih besar.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Bayangkan sebuah toko kecil.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dulu omzetnya Rp100 juta setahun dan memiliki pinjaman Rp20 juta.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sekarang toko tersebut berkembang menjadi perusahaan dengan omzet Rp10 miliar dan memiliki pinjaman Rp1 miliar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Nominal pinjaman meningkat dari Rp20 juta menjadi Rp1 miliar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi perusahaan tersebut juga berkembang berkali-kali lipat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, kita tidak boleh hanya bertanya:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cBerapa utangnya?\u201d<\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cBerapa utangnya dibandingkan dengan kemampuan ekonominya?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Rasio Utang Rendah Berarti Negara Pasti Aman?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Tidak juga.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini salah satu jebakan dalam membaca data.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Rasio utang adalah indikator penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi bukan satu-satunya indikator.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sebuah negara dengan rasio utang rendah tetap bisa menghadapi masalah jika:<\/p><ul data-spread=\"false\"><li>penerimaan pemerintah lemah;<\/li><li>utangnya memiliki bunga tinggi;<\/li><li>banyak utang jatuh tempo dalam waktu dekat;<\/li><li>utangnya didominasi valuta asing;<\/li><li>ekonominya tumbuh sangat lambat;<\/li><li>atau terjadi krisis keuangan.<\/li><\/ul><p class=\"isSelectedEnd\">Sebaliknya, rasio utang yang lebih tinggi tidak otomatis berarti negara tersebut akan mengalami krisis.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Yang harus dilihat adalah keseluruhan struktur fiskalnya.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Utang Pemerintah dan Utang Luar Negeri Itu Beda<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ini juga sangat penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kita sering mendengar istilah:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cUtang luar negeri Indonesia.\u201d<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian orang langsung menganggap semuanya adalah utang pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal tidak.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Utang luar negeri dapat mencakup kewajiban berbagai sektor, termasuk pemerintah dan swasta.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Begitu juga dengan utang pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah bisa memiliki utang dalam negeri maupun luar negeri.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>utang luar negeri \u2260 utang pemerintah.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>utang pemerintah \u2260 seluruh utang Indonesia.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">World Bank dalam statistik utang internasional juga membedakan beberapa kategori utang, termasuk utang pemerintah dan utang sektor swasta.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Memahami perbedaan istilah ini akan membuat kita jauh lebih sulit terjebak oleh informasi yang menyesatkan di media sosial.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kenapa Utang Orde Baru Sering Dianggap Lebih Aman?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ada beberapa alasan mengapa persepsi tersebut muncul.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pertama, sebagian orang mengingat periode pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang panjang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kedua, angka nominal utang pada masa tersebut terlihat jauh lebih kecil dibandingkan sekarang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketiga, belum banyak orang yang mengingat atau memahami detail krisis 1997\u20131998.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal justru krisis tersebut memberikan pelajaran penting tentang risiko utang dan nilai tukar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi kita harus berhati-hati dengan kesimpulan:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cUtang dulu kecil, berarti lebih aman.\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Belum tentu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Krisis 1998 menunjukkan bahwa struktur utang dan kondisi ekonomi sangat menentukan.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Bagaimana Anak Muda Harus Membaca Angka Utang?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Mulai sekarang, ketika melihat berita tentang utang Indonesia, coba gunakan <strong>5 pertanyaan sederhana<\/strong>.<\/p><h3>1. Utangnya berapa?<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Lihat nominalnya.<\/p><h3>2. Dibandingkan dengan PDB berapa?<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Lihat rasionya.<\/p><h3>3. Utangnya dalam mata uang apa?<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Rupiah atau valuta asing?<\/p><h3>4. Untuk apa uang tersebut digunakan?<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Pembangunan?<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pembayaran utang lama?<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Defisit?<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Program sosial?<\/p><h3>5. Bagaimana kemampuan pemerintah membayarnya?<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Lihat penerimaan negara, pertumbuhan ekonomi, bunga dan jatuh tempo.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Lima pertanyaan ini jauh lebih berguna daripada hanya membaca satu headline.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apa Pelajaran dari Orde Baru?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil.<\/p><h3>Utang bisa membantu pembangunan<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika sumber dana domestik terbatas, pinjaman dapat membantu pemerintah membangun infrastruktur dan meningkatkan kapasitas ekonomi.<\/p><h3>Utang luar negeri memiliki risiko nilai tukar<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Jika rupiah jatuh, kewajiban dalam valuta asing dapat menjadi jauh lebih berat dalam rupiah.<\/p><h3>Pertumbuhan ekonomi sangat penting<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Semakin kuat ekonomi, semakin besar kemampuan negara menghasilkan penerimaan dan mengelola kewajiban.<\/p><h3>Krisis bisa mengubah semuanya<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Krisis 1998 menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dapat berubah sangat cepat.<\/p><h3>Struktur utang sama pentingnya dengan jumlahnya<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Utang Rp1.000 triliun tidak otomatis lebih berbahaya daripada utang Rp500 triliun.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kita harus melihat struktur dan kemampuan membayarnya.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Bagaimana Reformasi Mengubah Cara Indonesia Berutang?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu perubahan terbesar setelah Reformasi adalah berkembangnya sistem pembiayaan melalui pasar surat utang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jika sebelumnya pinjaman luar negeri memiliki peran sangat besar dalam pembiayaan pembangunan, pemerintah kemudian semakin memanfaatkan pasar domestik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">SBN menjadi salah satu instrumen utama.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini memberikan keuntungan berupa diversifikasi sumber pembiayaan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Namun sekaligus menciptakan tantangan baru.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah harus memperhatikan:<\/p><ul data-spread=\"false\"><li>tingkat suku bunga;<\/li><li>kepercayaan investor;<\/li><li>jatuh tempo;<\/li><li>kebutuhan refinancing;<\/li><li>kondisi pasar;<\/li><li>serta risiko nilai tukar.<\/li><\/ul><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi, <strong>risiko utang tidak hilang.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Risikonya berubah dan harus dikelola dengan cara yang berbeda.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apakah Generasi Muda Harus Takut dengan Utang Negara?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Menurut saya, tidak perlu panik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi juga jangan cuek.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Utang pemerintah adalah bagian dari kehidupan ekonomi negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Yang perlu diperhatikan adalah apakah utang tersebut dikelola secara bertanggung jawab.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau pemerintah berutang untuk membangun sesuatu yang meningkatkan produktivitas ekonomi, manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Misalnya pembangunan:<\/p><ul data-spread=\"false\"><li>transportasi;<\/li><li>energi;<\/li><li>pendidikan;<\/li><li>kesehatan;<\/li><li>teknologi;<\/li><li>infrastruktur digital;<\/li><li>dan fasilitas publik.<\/li><\/ul><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi kalau utang terus bertambah tanpa peningkatan kemampuan ekonomi dan penerimaan negara yang memadai, tentu risikonya menjadi lebih besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, generasi muda sebenarnya punya alasan kuat untuk mengikuti isu utang.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Bukan karena harus menjadi ekonom.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi karena <strong>kebijakan utang hari ini dapat memengaruhi ruang fiskal Indonesia di masa depan.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Jadi, Mana yang Lebih Baik: Orde Baru atau Reformasi?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau pertanyaannya:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cMana yang rasio utangnya lebih rendah?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Jawabannya harus melihat tahun yang dibandingkan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tidak tepat membandingkan satu tahun Orde Baru dengan satu tahun Reformasi lalu menganggapnya mewakili seluruh era.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Orde Baru berlangsung puluhan tahun.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Reformasi juga sudah berlangsung lebih dari dua dekade.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Keduanya mengalami masa pertumbuhan, tekanan ekonomi, dan krisis yang berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Yang lebih menarik justru melihat <strong>perubahan strukturalnya.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada masa Orde Baru:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>pembangunan \u2192 kebutuhan dana besar \u2192 pinjaman luar negeri menjadi penting<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>krisis 1997\u20131998 \u2192 rupiah jatuh \u2192 sektor keuangan bermasalah \u2192 beban pemerintah melonjak<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Setelah Reformasi:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>konsolidasi ekonomi \u2192 penguatan fiskal \u2192 pasar SBN berkembang \u2192 sumber pembiayaan semakin beragam<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Itulah perubahan yang jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan dua angka.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Jangan Jadikan Rasio Utang sebagai Senjata Politik<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ini mungkin bagian yang paling relevan untuk pembaca muda di era media sosial.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Angka ekonomi sangat mudah digunakan untuk mendukung argumen politik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Seseorang bisa mengambil satu angka dari masa Orde Baru.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Orang lain mengambil satu angka dari masa Reformasi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian keduanya saling mengatakan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cLihat! Zaman saya lebih baik.\u201d<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal ekonomi tidak sesederhana itu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Data harus dilihat berdasarkan:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>periode + definisi + konteks + metode pengukuran.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau empat hal tersebut tidak jelas, sebuah angka bisa digunakan untuk membangun narasi apa saja.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, kemampuan membaca data menjadi sangat penting.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kesimpulan<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Rasio utang terhadap PDB merupakan salah satu cara terbaik untuk memahami ukuran utang suatu negara dibandingkan dengan kemampuan ekonominya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Namun indikator ini bukan satu-satunya ukuran kesehatan keuangan negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa situasi dapat berubah dengan sangat cepat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada masa Orde Baru, pinjaman luar negeri memainkan peran penting dalam membiayai pembangunan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian krisis 1997\u20131998 memperlihatkan bagaimana depresiasi rupiah, krisis perbankan, kontraksi ekonomi, dan biaya restrukturisasi dapat membuat beban utang pemerintah melonjak sangat tajam.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Setelah Reformasi, Indonesia mengembangkan sistem pembiayaan yang lebih beragam, termasuk memperkuat pasar Surat Berharga Negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, mengatakan:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cUtang Orde Baru lebih aman karena jumlahnya lebih kecil.\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Begitu juga mengatakan:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cUtang Reformasi lebih berbahaya karena jumlahnya lebih besar.\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">juga tidak otomatis benar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Cara yang lebih sehat adalah melihat:<\/p><p><strong>berapa utangnya, dibandingkan dengan seberapa besar ekonominya, bagaimana struktur utangnya, berapa biaya bunganya, kapan jatuh temponya, dalam mata uang apa, dan untuk apa uang tersebut digunakan.<\/strong><\/p><p>.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau utang Indonesia sekarang mencapai ribuan triliun rupiah, apakah berarti kondisi utang kita lebih buruk daripada zaman Orde Baru? Belum tentu. Ini adalah salah satu hal yang sering membingungkan ketika kita membandingkan utang Indonesia dari masa ke masa. Angka utang memang penting. Tetapi ada satu angka lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: rasio utang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3165,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3167","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-finance"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kalau utang Indonesia sekarang mencapai ribuan triliun rupiah, apakah berarti kondisi utang kita lebih buruk daripada zaman Orde Baru? Belum tentu. Ini adalah salah satu hal yang sering membingungkan ketika kita membandingkan utang Indonesia dari masa ke masa. Angka utang memang penting. Tetapi ada satu angka lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: rasio utang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Regarcommpromo\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-15T05:47:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-15T05:58:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"399\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"501\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ewin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ewin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167\"},\"author\":{\"name\":\"Ewin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02\"},\"headline\":\"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi\",\"datePublished\":\"2026-09-15T05:47:04+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-15T05:58:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167\"},\"wordCount\":2268,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-15T124229.323.jpg\",\"articleSection\":[\"Finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167\",\"name\":\"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-15T124229.323.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-15T05:47:04+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-15T05:58:12+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-15T124229.323.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-15T124229.323.jpg\",\"width\":399,\"height\":501},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3167#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\",\"name\":\"Regarcommpromo\",\"description\":\"Berita Online Untuk Anda\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Regarcommpromo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg\",\"width\":90,\"height\":90,\"caption\":\"Regarcommpromo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02\",\"name\":\"Ewin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Ewin\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/localhost\\\/regarcommpromo\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo","og_description":"Kalau utang Indonesia sekarang mencapai ribuan triliun rupiah, apakah berarti kondisi utang kita lebih buruk daripada zaman Orde Baru? Belum tentu. Ini adalah salah satu hal yang sering membingungkan ketika kita membandingkan utang Indonesia dari masa ke masa. Angka utang memang penting. Tetapi ada satu angka lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: rasio utang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167","og_site_name":"Regarcommpromo","article_published_time":"2026-09-15T05:47:04+00:00","article_modified_time":"2026-09-15T05:58:12+00:00","og_image":[{"width":399,"height":501,"url":"http:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ewin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ewin","Estimasi waktu membaca":"13 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167"},"author":{"name":"Ewin","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/person\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02"},"headline":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi","datePublished":"2026-09-15T05:47:04+00:00","dateModified":"2026-09-15T05:58:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167"},"wordCount":2268,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","articleSection":["Finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167","name":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi - Regarcommpromo","isPartOf":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","datePublished":"2026-09-15T05:47:04+00:00","dateModified":"2026-09-15T05:58:12+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#primaryimage","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","contentUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","width":399,"height":501},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3167#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Perbandingan Rasio Utang terhadap PDB Indonesia: Orde Baru vs Reformasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#website","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/","name":"Regarcommpromo","description":"Berita Online Untuk Anda","publisher":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization","name":"Regarcommpromo","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg","contentUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg","width":90,"height":90,"caption":"Regarcommpromo"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/person\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02","name":"Ewin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","caption":"Ewin"},"sameAs":["http:\/\/localhost\/regarcommpromo"],"url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?author=1"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-15T124229.323.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3167"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3167\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3171,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3167\/revisions\/3171"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}