{"id":3143,"date":"2026-09-13T08:39:55","date_gmt":"2026-09-13T08:39:55","guid":{"rendered":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143"},"modified":"2026-09-13T08:43:41","modified_gmt":"2026-09-13T08:43:41","slug":"utang-indonesia-dari-orde-baru-hingga-reformasi-apa-yang-sebenarnya-berubah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143","title":{"rendered":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah?"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3143\" class=\"elementor elementor-3143\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b247ed3 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"b247ed3\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3485c63 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"3485c63\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Pernah bertanya kenapa Indonesia punya utang? Apakah utang Indonesia sudah ada sejak zaman Orde Baru? Dan apakah utang zaman dulu sebenarnya lebih kecil dibandingkan sekarang?<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika kita membicarakan ekonomi Indonesia.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Di media sosial, pembahasan utang sering kali berakhir pada perdebatan sederhana: <em>\u201cZaman dulu utangnya kecil, sekarang besar.\u201d<\/em> Atau sebaliknya, <em>\u201cSekarang ekonomi lebih besar, jadi wajar kalau utangnya juga lebih besar.\u201d<\/em><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Masalahnya, membandingkan utang hanya berdasarkan nominal rupiah atau dolar tidak cukup.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Untuk memahami utang Indonesia, kita perlu mundur sedikit ke belakang dan melihat bagaimana pemerintah membiayai pembangunan pada masa <strong>Orde Baru<\/strong>, apa yang terjadi ketika Indonesia dihantam <strong>krisis ekonomi 1997\u20131998<\/strong>, dan bagaimana pola pembiayaan negara berubah memasuki era <strong>Reformasi<\/strong>.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Artikel ini adalah bagian pertama dari seri pembahasan tentang sejarah utang dan pembangunan Indonesia.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h2>Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Utang Negara?<\/h2><p class=\"isSelectedEnd\">Sebelum membandingkan Orde Baru dan Reformasi, kita perlu memahami satu hal terlebih dahulu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Utang negara pada dasarnya adalah dana yang dipinjam pemerintah untuk membiayai kebutuhan negara ketika penerimaan pemerintah belum cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, program sosial, hingga pembiayaan defisit anggaran.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi, <strong>utang tidak otomatis berarti sesuatu yang buruk.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Yang jauh lebih penting adalah:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Untuk apa utang digunakan?<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau utang digunakan untuk membangun sesuatu yang meningkatkan produktivitas ekonomi dan memberikan manfaat jangka panjang, ceritanya berbeda dengan utang yang hanya digunakan untuk menutup kebutuhan tanpa menghasilkan manfaat yang memadai.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, ketika membicarakan utang Indonesia, kita tidak cukup hanya bertanya:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cBerapa jumlah utangnya?\u201d<\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Kita juga perlu bertanya:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cUtangnya dari siapa, digunakan untuk apa, berapa bunganya, bagaimana cara membayarnya, dan seberapa besar kemampuan ekonomi negara untuk menanggungnya?\u201d<\/p><\/blockquote><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Bagaimana Indonesia Membiayai Pembangunan pada Masa Orde Baru?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika Orde Baru mulai berkuasa pada akhir 1960-an, Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat berat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Inflasi tinggi, kondisi fiskal terbatas, dan kebutuhan pembangunan sangat besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah kemudian membutuhkan sumber pembiayaan dari luar negeri.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada periode tersebut, Indonesia mendapatkan dukungan dan pinjaman dari sejumlah negara dan lembaga internasional.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu perkembangan penting adalah terbentuknya <strong>Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI)<\/strong> pada 1967.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Forum tersebut menjadi salah satu mekanisme penting bagi koordinasi bantuan dan pinjaman kepada Indonesia.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dengan dukungan pembiayaan tersebut, pemerintah dapat menjalankan berbagai program pembangunan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Mulai dari pembangunan infrastruktur, pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga berbagai proyek pembangunan lainnya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada masa itu, pinjaman luar negeri menjadi salah satu bagian penting dari strategi pembiayaan pembangunan Indonesia.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kenapa Pemerintah Saat Itu Memilih Berutang?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Jawabannya sebenarnya cukup sederhana.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Indonesia membutuhkan dana pembangunan dalam jumlah besar, sementara kemampuan penerimaan dalam negeri masih terbatas.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Bayangkan sebuah negara yang baru keluar dari periode ekonomi yang sulit.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kebutuhan membangun jalan, sekolah, bendungan, fasilitas kesehatan, irigasi dan berbagai infrastruktur lainnya sangat besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi uang yang tersedia di dalam negeri terbatas.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu pilihan yang tersedia adalah mencari pembiayaan dari luar negeri.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Konsepnya mirip dengan seseorang yang ingin membuka usaha.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jika modal sendiri belum cukup, seseorang bisa meminjam uang untuk membeli peralatan dan menjalankan usaha.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi tentu saja ada konsekuensinya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pinjaman harus dikembalikan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Begitu juga dengan negara.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Utang Orde Baru Tidak Bisa Dilihat Hanya dari Angkanya<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Di sinilah pembahasan tentang utang mulai menjadi menarik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika orang membandingkan utang masa Orde Baru dengan Reformasi, sering kali yang dibandingkan hanya angka nominal.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Padahal kondisi ekonominya berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ukuran ekonomi Indonesia pada 1970-an tentu berbeda dengan Indonesia pada 2000-an atau 2020-an.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jumlah penduduk juga berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Nilai rupiah berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Inflasi berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Struktur ekonomi berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sumber pembiayaan pemerintah juga berubah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, salah satu ukuran yang lebih berguna adalah <strong>rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)<\/strong>.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Rasio tersebut membantu kita melihat ukuran utang dibandingkan dengan kemampuan ekonomi suatu negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dengan kata lain, utang Rp1.000 triliun bagi ekonomi yang sangat besar tidak otomatis memiliki beban yang sama dengan utang Rp1.000 triliun bagi ekonomi yang jauh lebih kecil.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Lalu Apa yang Terjadi pada Tahun 1997\u20131998?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Inilah titik balik yang sangat penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Krisis finansial Asia yang dimulai pada 1997 menghantam Indonesia dengan sangat keras.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Nilai rupiah mengalami depresiasi besar.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Sektor perbankan mengalami tekanan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Banyak perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing menghadapi masalah karena kewajiban mereka meningkat drastis jika dihitung dalam rupiah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah kemudian harus menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar defisit anggaran biasa.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Indonesia membutuhkan program penyelamatan dan restrukturisasi ekonomi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada periode krisis tersebut, Indonesia bekerja sama dengan <strong>International Monetary Fund (IMF)<\/strong> dan lembaga internasional lainnya.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">IMF mencatat bahwa program Indonesia pada masa krisis mencakup antara lain restrukturisasi sektor perbankan, penanganan masalah utang perusahaan, reformasi kebangkrutan, deregulasi perdagangan dan privatisasi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Krisis juga membuat posisi fiskal pemerintah berubah secara drastis.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Menurut dokumentasi IMF, rasio utang pemerintah terhadap PDB meningkat sangat tajam selama krisis, antara lain karena depresiasi rupiah dan biaya yang berkaitan dengan restrukturisasi sektor perbankan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Artinya, krisis 1997\u20131998 menjadi salah satu alasan mengapa angka utang pemerintah Indonesia mengalami lonjakan besar.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Jadi, Apakah Semua Utang Itu Karena Pemerintah Banyak Meminjam?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Tidak sesederhana itu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini salah satu bagian penting yang sering hilang dalam diskusi media sosial.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Lonjakan utang pemerintah pada masa krisis bukan hanya akibat pemerintah mengambil pinjaman baru.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ada faktor lain yang sangat penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Nilai tukar rupiah.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika rupiah jatuh terhadap dolar AS, kewajiban dalam mata uang asing jika dihitung dalam rupiah ikut meningkat.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Selain itu, pemerintah harus menghadapi biaya penanganan krisis perbankan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi, krisis dapat menciptakan efek domino:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>rupiah melemah \u2192 perusahaan dan bank kesulitan \u2192 pemerintah melakukan penyelamatan\/restrukturisasi \u2192 beban fiskal meningkat \u2192 utang pemerintah meningkat.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, memahami sejarah utang Indonesia juga berarti memahami sejarah krisis ekonomi Indonesia.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apa yang Berubah Setelah Reformasi?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Memasuki era Reformasi, Indonesia perlahan membangun sistem pengelolaan keuangan negara yang berbeda.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Salah satu perubahan penting adalah berkembangnya pasar surat utang domestik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah tidak hanya mengandalkan pinjaman luar negeri.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah juga dapat memperoleh pembiayaan melalui <strong>Surat Berharga Negara (SBN)<\/strong> yang diterbitkan di pasar domestik maupun internasional.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini merupakan perubahan penting dalam struktur pembiayaan negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Secara sederhana:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Dulu:<\/strong><br \/>Pinjaman luar negeri memiliki peran sangat besar dalam pembiayaan pembangunan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Kemudian:<\/strong><br \/>Pemerintah semakin mengembangkan sumber pembiayaan dari pasar keuangan domestik melalui penerbitan SBN.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Perubahan tersebut tidak berarti Indonesia berhenti memiliki utang luar negeri.<\/p><p>Namun struktur dan sumber pembiayaannya menjadi lebih beragam<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-d35ec41 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"d35ec41\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4d19b53 elementor-widget elementor-widget-gallery\" data-id=\"4d19b53\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-settings=\"{&quot;columns&quot;:2,&quot;lazyload&quot;:&quot;yes&quot;,&quot;gallery_layout&quot;:&quot;grid&quot;,&quot;columns_tablet&quot;:2,&quot;columns_mobile&quot;:1,&quot;gap&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;gap_tablet&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;gap_mobile&quot;:{&quot;unit&quot;:&quot;px&quot;,&quot;size&quot;:10,&quot;sizes&quot;:[]},&quot;link_to&quot;:&quot;file&quot;,&quot;aspect_ratio&quot;:&quot;3:2&quot;,&quot;overlay_background&quot;:&quot;yes&quot;,&quot;content_hover_animation&quot;:&quot;fade-in&quot;}\" data-widget_type=\"gallery.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery__container\">\n\t\t\t\t\t\t\t<a class=\"e-gallery-item elementor-gallery-item elementor-animated-content\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153842.127.jpg\" data-elementor-open-lightbox=\"yes\" data-elementor-lightbox-slideshow=\"4d19b53\" data-elementor-lightbox-title=\"images - 2026-09-13T153842.127\" data-e-action-hash=\"#elementor-action%3Aaction%3Dlightbox%26settings%3DeyJpZCI6MzE0MiwidXJsIjoiaHR0cHM6XC9cL3JlZ2FyY29tbXByb21vLm15LmlkXC93cC1jb250ZW50XC91cGxvYWRzXC8yMDI2XC8wOVwvaW1hZ2VzLTIwMjYtMDktMTNUMTUzODQyLjEyNy5qcGciLCJzbGlkZXNob3ciOiI0ZDE5YjUzIn0%3D\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-gallery-image elementor-gallery-item__image\" data-thumbnail=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153842.127-169x300.jpg\" data-width=\"169\" data-height=\"300\" aria-label=\"\" role=\"img\" ><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery-item__overlay\"><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t\t\t<a class=\"e-gallery-item elementor-gallery-item elementor-animated-content\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153701.148.jpg\" data-elementor-open-lightbox=\"yes\" data-elementor-lightbox-slideshow=\"4d19b53\" data-elementor-lightbox-title=\"images - 2026-09-13T153701.148\" data-e-action-hash=\"#elementor-action%3Aaction%3Dlightbox%26settings%3DeyJpZCI6MzE0MCwidXJsIjoiaHR0cHM6XC9cL3JlZ2FyY29tbXByb21vLm15LmlkXC93cC1jb250ZW50XC91cGxvYWRzXC8yMDI2XC8wOVwvaW1hZ2VzLTIwMjYtMDktMTNUMTUzNzAxLjE0OC5qcGciLCJzbGlkZXNob3ciOiI0ZDE5YjUzIn0%3D\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-gallery-image elementor-gallery-item__image\" data-thumbnail=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153701.148-168x300.jpg\" data-width=\"168\" data-height=\"300\" aria-label=\"\" role=\"img\" ><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-gallery-item__overlay\"><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-bbe5707 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"bbe5707\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3ee34b1 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"3ee34b1\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1>Orde Baru vs Reformasi: Apa Perbedaan Utamanya?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Kalau disederhanakan, perubahannya dapat digambarkan seperti ini:<\/p><table><tbody><tr><th>Aspek<\/th><th>Orde Baru<\/th><th>Reformasi<\/th><\/tr><tr><td>Sumber pembiayaan<\/td><td>Pinjaman luar negeri memiliki peran besar<\/td><td>Lebih beragam<\/td><\/tr><tr><td>Pasar utang domestik<\/td><td>Belum berkembang seperti sekarang<\/td><td>Semakin penting<\/td><\/tr><tr><td>Surat Berharga Negara<\/td><td>Belum menjadi instrumen utama seperti sekarang<\/td><td>Menjadi salah satu instrumen utama pembiayaan<\/td><\/tr><tr><td>Krisis terbesar<\/td><td>Krisis 1997\u20131998<\/td><td>Menghadapi berbagai guncangan ekonomi dengan sistem fiskal yang berbeda<\/td><\/tr><tr><td>Pengelolaan fiskal<\/td><td>Sistem sebelum reformasi keuangan negara<\/td><td>Kerangka fiskal dan pengelolaan utang lebih terstruktur<\/td><\/tr><tr><td>Tantangan<\/td><td>Ketergantungan pembiayaan eksternal dan risiko nilai tukar<\/td><td>Risiko bunga, nilai tukar, jatuh tempo dan kondisi pasar keuangan<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><p class=\"isSelectedEnd\">Perlu digarisbawahi bahwa tabel ini adalah <strong>gambaran umum<\/strong>, bukan berarti seluruh periode Orde Baru memiliki pola yang sama atau seluruh periode Reformasi memiliki kebijakan yang identik.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apakah Utang Orde Baru Lebih Kecil daripada Utang Sekarang?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ini pertanyaan yang sering muncul.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jawabannya:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Tidak bisa dijawab hanya dengan melihat nominal utang.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kenapa?<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena kita harus membandingkan beberapa hal sekaligus.<\/p><h3>1. Ukuran ekonomi<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">PDB Indonesia sekarang jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu.<\/p><h3>2. Nilai uang<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Rp1 juta pada masa lalu tidak memiliki daya beli yang sama dengan Rp1 juta sekarang.<\/p><h3>3. Rasio utang terhadap PDB<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Ini memberikan gambaran mengenai ukuran utang relatif terhadap perekonomian.<\/p><h3>4. Komposisi utang<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Utang luar negeri, utang domestik, utang pemerintah, dan utang swasta merupakan kategori yang berbeda.<\/p><h3>5. Risiko nilai tukar<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Utang dalam valuta asing memiliki risiko yang berbeda dengan utang dalam rupiah.<\/p><h3>6. Biaya bunga<\/h3><p class=\"isSelectedEnd\">Jumlah utang saja tidak cukup. Kita juga perlu melihat berapa biaya yang harus dibayar pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi, pernyataan <strong>\u201cutang zaman dulu lebih kecil\u201d<\/strong> mungkin benar jika hanya berbicara mengenai nominal tertentu.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi belum tentu benar jika yang dibandingkan adalah <strong>beban utang terhadap ukuran ekonomi dan kemampuan negara membayarnya.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apakah Berarti Utang Zaman Reformasi Lebih Buruk?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Belum tentu juga.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ini penting supaya pembahasan tidak berubah menjadi propaganda politik.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Utang merupakan instrumen ekonomi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Yang harus dilihat adalah bagaimana instrumen tersebut digunakan dan dikelola.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Misalnya, pemerintah berutang untuk membangun infrastruktur yang meningkatkan konektivitas dan aktivitas ekonomi.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dampaknya tentu berbeda dengan utang yang digunakan untuk membiayai pengeluaran yang tidak memberikan manfaat ekonomi atau sosial yang sebanding.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cApakah pemerintah berutang?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Tetapi:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cApakah utang tersebut dikelola secara sehat dan memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang harus dibayar?\u201d<\/strong><\/p><\/blockquote><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Dari Orde Baru ke Reformasi: Perubahan Besarnya Ada di Mana?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Jika harus diringkas dalam satu kalimat:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Perubahan terbesar bukan sekadar jumlah utangnya, tetapi bagaimana Indonesia memperoleh, menggunakan, dan mengelola pembiayaan tersebut.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pada masa Orde Baru, pinjaman luar negeri menjadi salah satu sumber penting untuk mendukung pembangunan ketika kapasitas pembiayaan dalam negeri masih terbatas.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Krisis 1997\u20131998 kemudian menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal dan utang valuta asing memiliki risiko yang besar ketika nilai tukar mengalami gejolak.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Setelah Reformasi, Indonesia mengembangkan struktur pembiayaan yang lebih beragam, termasuk memperkuat pembiayaan melalui pasar surat utang negara.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Dengan demikian, sejarah utang Indonesia sebenarnya juga merupakan cerita tentang <strong>perubahan ekonomi Indonesia itu sendiri.<\/strong><\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Apa yang Bisa Dipelajari Anak Muda dari Sejarah Utang Indonesia?<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Ada satu pelajaran yang menurut saya sangat penting.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Jangan mudah percaya pada satu angka.<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ketika melihat sebuah postingan di media sosial yang mengatakan:<\/p><blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">\u201cUtang Indonesia sekarang sekian.\u201d<\/p><\/blockquote><p class=\"isSelectedEnd\">Jangan langsung mengambil kesimpulan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Tanyakan:<\/p><ul data-spread=\"false\"><li>dibandingkan dengan tahun berapa?<\/li><li>utang pemerintah atau utang seluruh negara?<\/li><li>utang luar negeri atau total utang?<\/li><li>berapa rasio terhadap PDB?<\/li><li>siapa krediturnya?<\/li><li>digunakan untuk apa?<\/li><li>berapa bunga yang harus dibayar?<\/li><li>bagaimana kemampuan negara membayarnya?<\/li><\/ul><p class=\"isSelectedEnd\">Kebiasaan mempertanyakan konteks seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menghafal angka.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Karena angka tanpa konteks bisa menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.<\/p><div contenteditable=\"false\"><hr \/><\/div><h1>Kesimpulan<\/h1><p class=\"isSelectedEnd\">Perjalanan utang Indonesia dari Orde Baru menuju Reformasi bukan cerita sederhana tentang <strong>\u201cdulu sedikit, sekarang banyak\u201d<\/strong> atau <strong>\u201cdulu bagus, sekarang buruk.\u201d<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Ada perubahan besar dalam ekonomi Indonesia, sumber pembiayaan, struktur utang, sistem keuangan, dan cara pemerintah mengelola risiko.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Orde Baru menggunakan pinjaman luar negeri sebagai salah satu instrumen penting untuk membiayai pembangunan ketika kemampuan pembiayaan domestik masih terbatas.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Kemudian krisis 1997\u20131998 menjadi titik balik yang menunjukkan betapa besar risiko yang dapat muncul ketika perekonomian menghadapi gejolak nilai tukar dan krisis perbankan.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Memasuki Reformasi, struktur pembiayaan negara menjadi lebih beragam dan pasar Surat Berharga Negara berkembang menjadi bagian penting dari pembiayaan pemerintah.<\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Jadi, ketika kita membahas <strong>utang Indonesia<\/strong>, jangan hanya bertanya:<\/p><p class=\"isSelectedEnd\"><strong>\u201cBerapa utangnya?\u201d<\/strong><\/p><p class=\"isSelectedEnd\">Pertanyaan yang lebih penting adalah:<\/p><p><strong>\u201cUtang itu digunakan untuk apa, dari mana sumbernya, berapa biayanya, dan apakah manfaat pembangunan yang dihasilkan sebanding dengan bebannya?\u201d<\/strong><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah bertanya kenapa Indonesia punya utang? Apakah utang Indonesia sudah ada sejak zaman Orde Baru? Dan apakah utang zaman dulu sebenarnya lebih kecil dibandingkan sekarang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika kita membicarakan ekonomi Indonesia. Di media sosial, pembahasan utang sering kali berakhir pada perdebatan sederhana: \u201cZaman dulu utangnya kecil, sekarang besar.\u201d Atau sebaliknya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3141,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-finance"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pernah bertanya kenapa Indonesia punya utang? Apakah utang Indonesia sudah ada sejak zaman Orde Baru? Dan apakah utang zaman dulu sebenarnya lebih kecil dibandingkan sekarang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika kita membicarakan ekonomi Indonesia. Di media sosial, pembahasan utang sering kali berakhir pada perdebatan sederhana: \u201cZaman dulu utangnya kecil, sekarang besar.\u201d Atau sebaliknya, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Regarcommpromo\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-13T08:39:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-13T08:43:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"480\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ewin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ewin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143\"},\"author\":{\"name\":\"Ewin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02\"},\"headline\":\"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah?\",\"datePublished\":\"2026-09-13T08:39:55+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-13T08:43:41+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143\"},\"wordCount\":1705,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-13T153715.025.jpg\",\"articleSection\":[\"Finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143\",\"name\":\"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-13T153715.025.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-13T08:39:55+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-13T08:43:41+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-13T153715.025.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/images-2026-09-13T153715.025.jpg\",\"width\":480,\"height\":640},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?p=3143#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\",\"name\":\"Regarcommpromo\",\"description\":\"Berita Online Untuk Anda\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#organization\",\"name\":\"Regarcommpromo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg\",\"width\":90,\"height\":90,\"caption\":\"Regarcommpromo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02\",\"name\":\"Ewin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Ewin\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/localhost\\\/regarcommpromo\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/regarcommpromo.my.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo","og_description":"Pernah bertanya kenapa Indonesia punya utang? Apakah utang Indonesia sudah ada sejak zaman Orde Baru? Dan apakah utang zaman dulu sebenarnya lebih kecil dibandingkan sekarang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika kita membicarakan ekonomi Indonesia. Di media sosial, pembahasan utang sering kali berakhir pada perdebatan sederhana: \u201cZaman dulu utangnya kecil, sekarang besar.\u201d Atau sebaliknya, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143","og_site_name":"Regarcommpromo","article_published_time":"2026-09-13T08:39:55+00:00","article_modified_time":"2026-09-13T08:43:41+00:00","og_image":[{"width":480,"height":640,"url":"http:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ewin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ewin","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143"},"author":{"name":"Ewin","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/person\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02"},"headline":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah?","datePublished":"2026-09-13T08:39:55+00:00","dateModified":"2026-09-13T08:43:41+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143"},"wordCount":1705,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","articleSection":["Finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143","name":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah? - Regarcommpromo","isPartOf":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","datePublished":"2026-09-13T08:39:55+00:00","dateModified":"2026-09-13T08:43:41+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#primaryimage","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","contentUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","width":480,"height":640},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?p=3143#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Utang Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi: Apa yang Sebenarnya Berubah?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#website","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/","name":"Regarcommpromo","description":"Berita Online Untuk Anda","publisher":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#organization","name":"Regarcommpromo","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg","contentUrl":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/cropped-Logo-Regarcommpromo.jpg","width":90,"height":90,"caption":"Regarcommpromo"},"image":{"@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/#\/schema\/person\/099304dc4a8606be0425ecacc7bd5a02","name":"Ewin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b0f04860a2b6c5580bc6a67662bf8d14d232f118a3a016552e0d75b4b36c91d3?s=96&d=mm&r=g","caption":"Ewin"},"sameAs":["http:\/\/localhost\/regarcommpromo"],"url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/?author=1"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2026-09-13T153715.025.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3143"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3148,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3143\/revisions\/3148"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/regarcommpromo.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}